Bank Syariah Mau Maju Pesat? Harus Kaaffah Jawabannya!

Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Motivator Sakinah Finance/Wakil Ketua STEI Tazkia

Banyak yang kecewa dengan bank syariah dikala ini. Jenis-tipe argumentasinya, ada yang mengatakan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan “mirip atau sama” dengan bank konvensional. Ada juga yang berang-geram karena ternyata margin yang ditawarkan lebih tinggi dari suku bunga. Juga ada yang sewot karena pelayanannya kurang canggih dan lamban dari bank konvensional.

Para bank syariah cukup kewalahan, beberapa berfikir keras ingin bersaing dengan sistem mengekor bank konvensional. Alhasil, mereka jadi kelihatan \”sama\” dengan bank konvensional. Tapi sebagian bank syariah memilih jurus ingin tetap tambil beda mengikuti slogan orang Jawa, “alon-alon waton kelakon” yang artinya biar lambat melainkan selesai asal tetap mengikuti dasar tata tertib yang terang. Jurus manakah yang cermat?

Bank syariah dikala ini
Saat membuka ekspo iB Vaganza di Medan baru-baru ini, Ketua Dewan Komisioner Otorias Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan bahwa peranan industri keuangan syariah terutamanya perbankan syariah amat penting dalam sektor perekonomian masyarakat ketika ini. Dalam siaran pers, OJK menyakinkan bahwa industri perbankan syariah saat ini telah SAMA BAGUSNYA, SAMA LENGKAPNYA, SAMA MODERNNYA dengan bank konvensional, DAN PASTINYA SYARIAH LEBIH BERKAH.

Tapi mengapa masih banyak keluarga Indonesia yang masih mengeluh ketika telah berinteraksi dengan bank-bank syariah? Hampir di tiap-tiap sesi tanya jawab talkshow atau pelatihan Sakinah Finance, selalu ada keluhan dan pertanyaan “apakah benar bank syariah sudah syariah?” Ada sebagian kemungkinan mengapa ini terjadi antara lain:
1. Banyak yang tahu bank syariah namun sungkan untuk ketahui lebih dekat;
2. Ikutan media sosial, sahabat atau saudara yang memojokkan bank syariah;
3. Berinteraksi dengan bank syariah melainkan tak berkeinginan bertanya dan memperkenalkan kritik;
4. Pegawai bank syariah tak terampil menerangkan keunggulan produk dan jasa syariah;
5. Bank syariah tidak terampil mengemas keunggulan syariah dalam promosinya;
6. Bank syariah mencontoh cara bank konvensional yang lebih praktis dibandingkan dengan metode syariah tapi kompleks;
7. Oknum-oknum bank syariah yang tak bersikap cocok syariah; dan lain lain.

Para keluarga Indonesia tentu saja keder, bagus Muslim maupun Non-Muslim. Awalnya segala ingin bank syariah bisa memberikan solusi yang lebih bagus untuk kebutuhan keuangannya tetapi beberapa menerima pengalaman bersyariah yang mengecewakan.

Ketika ini bank syariah boleh dikatakan jalan ditempat bila dipandang dari pangsa pasar berbanding dengan konvensional yang makin agresif. Berdasarkan OJK per Januari 2017, industri perbankan syariah di Indonesia yang terdiri dari 13 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah yang dimiliki oleh Bank Awam Konvensional dan 166 BPRS mempunya total aset Rp.356,50 triliun dengan pangsa pasar sebesar 5,13%.

Semacam juga dengan perkembangan bank syariah di Malaysia yang dikala ini menduduki peringkat pertama di dunia dari sisi jumlah aset, pangsa pasarnya cuma naik dari 26.8 persen menjadi 28 persen pada tahun 2016 dengan nilai aset RM742 billion atau mendekati Rp.3.000 triliun. Tapi demikian, pertumbuhan tersebut 10 kali lebih tinggi dari Indonesia walau hanya didorong dengan jumlah penduduk dan ukuran negara yang 10 kali jauh lebih kecil.

Pengalaman bersyariah
Penulis telah menjadi nasabah bank syariah sejak Bank Muamalat Indonesia didirikan pada tahun 1992. Ketika pindah dan menetap di Malaysia hampir 10 tahun lamanya, penulis konsisten aktif berinteraksi dengan bank syariah ditambah dengan produk syariah lainnya. Sesudah kembali ke Indonesia, penulis lebih tak jarang lagi bertransaksi dengan produk dan jasa bank syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya.

Kemudian penulis menerima kans untuk melanjutkan studi S3 dan menjadi dosen di Inggris sekitar 5 tahun lamanya. Lagi-lagi, penulis menerapkan kans untuk menjadi nasabah aktif di bank dan produk syariah di sana.

Pesan dan kesan
Dari pengalaman di atas, ada sebagian pesan dan kesan mengenai bank syariah.

1. Rasulullah Saw tak pernah mendirikan bank syariah sehingga tak ada teladan yang pas bagaimana sebuah bank bisa beroperasi. Terang diajarkan Rasul yakni teladan – teladan akad seperti Murabahah (jual beli), Salam (jual beli dengan pengorderan dibayar di awal), Istisna’ (jual beli dengan pengorderan dibayar berjenjang), Mudharabah (kemitraan antara pemilik modal dan pekerja), Musyarakah (kemitraan antara para pemilik modal), Ijarah (sewa), dan lain – lain. Akad – akad inilah yang kemudian diterapkan untuk menggantikan transaksi berbasis bunga;

2. Ikhtiar para organisator keuangan syariah yaitu meng-Islamkan cara perbankan konvensional yang sudah ratusan tahun berjalan dan menjadi salah satu denyut jantung perekonomian dunia;

3. Baik saja beberapa produk dan jasa bank syariah menjadi mirip dengan bank konvensional. Dari jauh mereka serupa tetapi hakekatnya mereka tak sama;

4. Sarinya wujud dan substansi (form and substance) bank syariah telah tampil beda. Dari sisi wujud, produk dan jasa tak boleh terkait lantas dan tak seketika dengan hal yang beraroma riba, maysir, gharar, haram, dzalim, dharar. Dari sisi substansi, perbedaan dapat diperhatikan mulai dari akad dan operasionalnya;

5. Bank syariah masih amat muda usianya dan prinsipnya sementara harus akur ketika bersanding dengan sistem perbankan konvensional. Jangan heran kalau ada beberapa prinsip bank syariah yang masih belum dapat total berjalan;

6. Dalam perjalanannya, prinsip – prinsip bank syariah telah banyak diakomodir melewati edukasi terhadap pembuat keputusan, respon atas desakan masyarakat yang berkeinginan bank syariah konsisten eksis, serta karena sudah dinikmati manfaatnya untuk keluarga, masyarakat dan negara;

7. Bank syariah yaitu satu format “rahmatan lil ‘alamin”, rahmat kepada seluruh alam, bukan disediakan hanya untuk kepentingan keluarga Muslim namun juga non-Muslim. Harapannya merupakan institusi ini dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi dan membawa keluarga Indonesia sejahtera.

Jikalau, semua pihak semestinya beberes, patut lebih banyak keluarga-keluarga Indonesia yang membesarkan institusi ini via kritikan yang membangun. Pada ketika yang beriringan, bank syariah juga perlu meningkatkan kesyariahannya sebab itulah keunikan yang dicari selama ini. tak unik atau “sama saja”, karenanya para keluarga akan putar haluan kembali ke bank konvensional.

Penulis pernah mendengar ada seorang “ustaz” yang memberikan tuntunan terhadap jamaahnya: “lebih baik ke bank konvensional yang tidak “munafik”, sudah terang riba, dibandingi dengan bank syariah yang “munafik”, katanya syariah tapi ternyata sistemnya masih ribawi”. Walau tidak sependapat dengan pernyataan ini, telah ada sinyal bahwa bank syariah dituntut untuk lebih syariah (patut kaaffah) supaya dapat maju cepat. Wallahu a\’lam bus-shawaab.

Salam Sakinah!



Bantu penulis dengan share: