Belajar dari Ibunda Hajar

Sejenak lagi tanggal 10 Dzulhijah. Satu diantara sekian banyak hari istimewa bagi kaum muslimin. Sebuah hari yang mengingatkan ummat Islam pada peristiwa penuh inspiratif, kisah ketaatan hamba pada RobbNya. Cinta Nabi Ibrahim, Ismail dan ibunda Siti Hajar yang tanpa syarat.

Keteladan Nabi Ibrahim, Ismail dan ibundanya sungguh benar-benar total. Mereka lah hamba-hamba yang demi cintanya pada Allah menjalankan pengabdian dan pengorbanan yang tiada banding.

Banyak pelajaran yang dapat kita petik, dari perjalanan cinta keluarga Nabi Ibrahim. Akan konsisten terjaga “hikmah”nya sebagaimana terpeliharanya Alquran. Sungguh, perjuangan tidak tertandingi keluarga mulia ini dapat diteladani oleh seluruh umat Islam sepanjang masa. Malah oleh makhluk lemah bernama wanita. Setiap muslimah dapat berkaca pada ibunda Hajar. Bercermin pada ketaatannya, cintanya dan pengorbanannya yang luar umum.

Sebagai wanita, Ibunda Siti Hajar ialah pribadi yang sungguh-sungguh tangguh, yang cintanya pada Allah teramat dalam. Sebagai istri Siti Hajar yakni pendamping yang penuh khidmat dan ketaatan pada sang suami. Sebagai ibu, Siti Hajar yaitu wanita yang seperti itu menakjubkan. Beri sayangnya yang sungguh besar pada sang buah hati, tidak sedikitpun menghalanginya untuk tetap menempatkan Sang Khalik sebagai yang pertama di hatinya.

Ketika ditinggal cuma berdua saja dengan permata hati yang masih bayi, di sebuah gurun tandus tidak berpenghuni, Siti Hajar ridla dan lapang dada menjalani. Itu tahu ayah putranya meninggalkan mereka adalah sebab instruksi Allah, maka Siti Hajar mendengar dan taat. Menaati Allah sekaligus suami yang benar-benar dicinta.

Saat Ismail, si kecil yang teramat menyenangkan hati, diambil untuk “dikorbankan” atas perintah Allah, Siti Hajar malah ridla dan tabah. Hanya beliau semacam itu putih, tak ada prasangka apa saja pada Allah, yang ada hanyalah sebuah keyakinan bahwa Allah ialah Maha Pemberi Yang Terbaik. Tidak yang terbaik yang akan Allah berikan pada para hambaNya bagus berupa ujian kesenangan maupun kesusahan.

Andai segala wanita bisa berkaca pada ibunda Siti Hajar, alangkah menawannya. Tak akan lagi dijumpai wanita yang berani melanggar perintah Robbnya, berlenggak lenggok di jalan tanpa jilbab penutup aurat. Tak akan lagi dijumpai istri-istri yang meraung-raung meratap menjerit-jerit dikala suaminya tiada. Tak akan pernah ada lagi wanita yang kacau gundah dan bertindak keji saat bercerai dengan suaminya. Tidak akan ada, seorang ibu yang tega menyakiti malah membunuh buah hatinya sendiri. Tidak akan ada wanita yang menyukai mencaci maki sesamanya. Tidak ada lagi wanita yang sibuk berprofesi mengumpulkan harta malah beraktifitas terlibat riba. Tak mungkin ada istri yang durhaka dan tak menaati suaminya. Tidak ada wanita yang ingin bertindak dholim dalam hal apa bahkan dan pada siapapun. Karena menjadi wanita taat, hebat, kuat dan smart!

Sama sekali ini bukan uthopis ataupun mimpi di siang bolong. Apabila seluruh itu pasti dapat terjadi. Kalau ibunda Siti Hajar bisa, mengapa kita tak? Bila wanita-wanita lain dapat menjadi hamba yang kaffah menaatiNya, bisa berkhidmat dan taat sepenuh cinta pada suaminya, kenapa kita tak?

Seandainya banyak wanita dapat menjadi ibu yang luar awam, kenapa kita tak? Jikalau banyak wanita yang dapat bersabar dengan seluruh ujian hidup, mengapa kita tak? Apabila banyak wanita yang mampu menjaga lisannya cuma untuk ucapan yang bagus dan berguna saja, kenapa kita tak? Bukankah kita sama-sama wanita yang dihasilkan Allah dengan karakteristik yang sama pula, tak ada perbedaan sedikitpun.

Belajar dari ibunda Siti Hajar akan membuat kita menjadi shalihah, kuat, dan tangguh. Bukankah ujian hidup yang kita hadapi tak seberapa dibandingkan dengan cobaan yang Allah berikan pada bunda Hajar?

Tetapi diri, belajarlah dengan sesungguhnya belajar, bukan cuma belajar untuk mengetahui kisahnya saja. Belajar bukan hanya seputar konsep dan teori semata. Senantiasa belajar yang sempurna, disertai perubahan sikap, sifat dan perilaku. Belajar untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.

Ibunda Siti Hajar, meski demikian itu berat ujian dan cobaan dariNya, yakni wanita yang senang. qonaah dan tidak pernah protes dengan keputusan-keputusanNya. Tidakkah kita mau seperti beliau? Menghiasi hidup hanya dengan menaatiNya, tidak melanggar apapun perintahNya padahal mungkin sangat berat pengorbanan yang harus dijalani.

Selamat belajar wahai wanita. Belajar dari kisah amazing salah satu wanita hebat sepanjang zaman. Selamat memilih untuk menjadi wanita shalihah, yang senantiasa menaatiNya, mencintaiNya tanpa prasyarat. Selamat untuk memilih menjadi wanita bergembira, yang hanya mengharap ridla dan cintaNya. Love U because Allah….

Bantu penulis dengan share: