Ber- Aqidah Itu Damai !

Bagi umat Islam, mungkin di antara hal yang bisa menentramkan batin mereka adalah keyakinan bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ialah pasti lewat izin dan kehendak Allah SWT semata. Tiada suatu kebaikan maupun keburukan yang mendatangi seseorang selain itu memang telah dikendalikan dan dipersiapkan jauh sebelum kedatangannya hal yang demikian, tanpa ada yang dapat menangguhkan ataupun menyegerakannya, dan tiada pula yang akan bisa menghambat ataupun hingga perlu untuk memaksakannya. Seluruh ketetapan perihal kebaikan ataupun keburukan sudah dievaluasi dengan cocok dan tak pernah meleset, tapi senantiasa tepat berdasarkan hikmah yang sudah dikehendaki oleh Allah SWT. Dan tiap hikmah biasanya akan dapat dikenal saat segala sesuatu sudah berlalu.

Tiada wujud rizki yang akan pernah salah domisili, hingga contohnya ketika ia harus tertuju kepada seseorang tetapi terbukti justru hingga terhadap seseorang lainnya. Sebetulnya juga dengan perkara kerugian, yang mana tidak akan pernah hingga menimpa seseorang yang wajib memang tidak tertimpa kerugian hal yang demikian. Segala apa saja bentuk kebaikan ataupun keburukan yang tak jadi hingga kepada seseorang, karenanya memang itulah yang hakekatnya semestinya luput darinya, sebab memang itu bukanlah hak atau nasibnya. Tiada komponen seseorang yang akan sampai direbut atau dipergunakan oleh orang lain, dan tiada pula amal seseorang yang akan sampai dikerjakan oleh orang lain. Ia keberuntungan maupun kerugian pada seseorang tak akan pernah berganti dengan keberuntungan atau kerugian orang lain, sebab hakekatnya nasib setiap orang itu cuma akan dijalani oleh dirinya sendiri, dan tak akan pernah tertukar dengan nasib orang lain.

Dan bentuk keyakinan inilah yang akan bisa menolong tiap orang dari umat Islam untuk dapat senantiasa menerima dan mensyukuri semua kondisi yang dialaminya. Keyakinan inilah yang dapat melahirkan kesadaran bahwa sebetulnya semua format kemudahan yang dialami oleh seseorang pada hakikatnya hanyalah atas kehendak Allah SWT semata, dan bukan atas kehendak orang itu sendiri; dan juga bahwa sesungguhnya semua bentuk kesulitan yang menghampiri seseorang, pada hakikatnya juga sudah ditetapkan sedemikian rupa oleh Allah SWT, yang memang sudah direncanakan untuk menjadi bagian dari jalan cerita kehidupan orang hal yang demikian.

Jalan cerita kehidupan setiap manusia pada hakikatnya sudah tertulis lengkap di dalam sebuah kitab, merupakan Lauh Mahfuudz, tanpa ada satu celah waktu malahan yang belum terisi dengan catatan momen atau kejadian. Sebetulnya juga dengan perkara sifat-sifat manusia dan sifat-sifat segenap makhluq lainnya, baik sifat-sifat fisik maupun non-jasmaniah, yang mana segala itu juga sudah secara komplit tercatat di dalam Lauh Mahfuudz. Kaya maupun miskin, kuat ataupun lemah, besar ataupun kecil, luas maupun sempit, halus maupun kasar, basah ataupun kering, dan seluruh wujud sifat yang ada pada ciptaan Allah SWT hakekatnya telah tertulis secara betul-betul mendetail di dalam kitab tersebut, tanpa ada yang terlewatkan. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya berikut ini:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci segala yang gaib; tiada yang mengetahuinya kecuali Ia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah ataupun yang kering, tapi tertulis dalam kitab yang riil (Lauh Mahfuudz).” (Al-An’aam: 59)

Dan yang demikian itulah format iraadah kauniyyah (qadariyyah) Allah SWT, adalah kehendak-Nya dalam memastikan taqdir atau nasib bagi segenap makhluq-Nya.

Seluruh, tiada seorang manusia malah yang pernah kapabel memilih nasibnya sendiri, karena tentu bila manusia bisa memilih nasibnya sendiri, maka pasti tiada yang akan memilih untuk menjadi orang yang lemah atau tidak mampu, baik lemah atau tak mampu secara jasmaniah ataupun secara non-lahiriah. Dan bila saja semua manusia rupanya dapat memilih nasibnya masing-masing, lalu semuanya memilih untuk menjadi orang yang cakap, maka tentu akan juga sulit dibayangkan dikala contohnya orang-orang yang kaya hingga tak bisa mengambil orang-orang tertentu untuk dapat menolong urusan dan keperluan-keperluan di rumah mereka, sebab memang saat itu seluruh manusia telah menjadi kaya dalam keadaannya masing-masing. Tentu kalau seluruh manusia sudah menjadi kaya, maka tiada lagi yang perlu berprofesi terhadap orang-orang yang kaya lainnya. Dan keadaan yang semacam itu pasti sangatlah susah untuk dibayangkan.

Baik di sinilah kita mungkin dapat mengambil hikmah, bahwa terbukti memang demikianlah format kesempurnaan cara Allah SWT dalam membagi-bagikan anugerah-Nya di antara umat manusia, merupakan dengan melebihkan kecakapan beberapa manusia di atas beberapa lainnya, agar mereka bisa saling mengambil manfaat dan saling menolong satu sama lain. Semua tiada manusia yang sanggup, kecuali pasti dia akan memerlukan pertolongan dari orang-orang yang tak sanggup. Dan yang demikian itu ialah bukti bahwa orang-orang yang mampu malah pada dasarnya juga mempunyai ketidakmampuan dalam hal tertentu, hingga mereka malah akan harus ditolong oleh orang-orang yang tak cakap.

Oleh sebab itu, dari kenyataan hal yang demikian kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa hakikat kebaikan dalam Islam pada dasarnya tidaklah cuma dapat diraih melalui kondisi manusia tertentu saja, tapi dia akan dapat diraih oleh siapapun dari umat Islam melewati keadaannya masing-masing. Maha sebagai orang yang kuat maupun sebagai orang yang lemah fisiknya, sanggup ataupun tak kapabel secara materinya, tiap-tiap orang dari umat Islam akan tetap mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat mendapat kebaikan dari sisi Allah SWT, ialah ridha dan rahmat-Nya. Sehingga dengan demikian, di antara umat Islam tak perlu hingga ada kecenderungan untuk saling ingin bertukar nasib atau budaya membanding-bandingkan nasib, sebab bagaimanapun juga, semuanya juga sama-sama mempunyai kesempatan yang serupa untuk dapat memperoleh kebaikan hal yang demikian.

Dan format keyakinan semacam itu tentu bukanlah dialamatkan untuk menghalang-halangi umat Islam dari mempunyai cita-cita yang lebih baik lagi, namun tidak lain yakni untuk mengingatkan bahwa sebetulnya di balik seluruh tenaga yang ada pasti terdapat Dzat Maha Kuat yang telah menghendaki tenaga hal yang demikian, sehingga pada dasarnya kuranglah semestinya jikalau pencapaian yang ada hanyalah diakui sebagai hasil dari kecakapan dan jerih payah kita sendiri, tanpa mengakui atau menyadari keterlibatan Allah SWT di dalamnya.

Keyakinan yang demikian itulah yang akan dapat membantu orang-orang yang belum dianugerahi kemujuran tertentu dalam usaha berterima kasih atas apa yang telah ada. Dengan memegang keyakinan tersebut, mereka yang cacat fisiknya akan lebih gampang menghindari keluhan atas keadaannya serta mencegah diri mereka dari mendambakan nasib seperti orang lain yang utuh fisiknya; sebagaimana orang-orang yang cakap juga akan terbantu dalam usaha menahan diri mereka dari mencela orang-orang yang lemah; karena bagaimanapun juga, segala kelebihan yang ada pada manusia pada hakikatnya hanyalah semata-mata atas ketetapan Allah SWT.

Allah SWT telah mengingatkan bahwa seluruh sedap yang ada pada manusia sesungguhnya hanyalah pemberian dari-Nya semata, dan bukan dari kemampuan ataupun atas kehendak manusia itu sendiri. Di dalam al-Qur’an diceritakan yang artinya berikut ini:

“Dan apa saja enak yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An-Nahl: 53)

“Segala kita hanyalah milik Allah, dan sebetulnya hanya terhadap-Nya-lah kita kembali.” (Al-Baqarah: 156)

“Sungguh atas kehendak Allah sajalah seluruh ini terbentuk, tiada kekuatan selain dengan pertolongan Allah.” (Al-Kahfi: 39)

“Dan tidaklah kalian dapat menghendaki selain jikalau Allah Jika semesta alam menghendaki.” (At-Takwiir: 29)

Bagus dari makna ayat-ayat hal yang demikian, kita akan semestinya mengakui bahwa sesungguhnya seluruh wujud enak, baik berupa kemampuan, kemudahan, lingkungan, persahabatan, bahkan sampai sedap iman dan Islam sekalipun, pada hakikatnya juga hanyalah pemberian dari Allah SWT semata, dan bukanlah hasil orderan atau opsi dari manusia itu sendiri.Ia manusia adalah ibarat daun-daun yang gugur dari sebuah pohon, karenanya mereka tak pernah bisa memesan atau memilih di sudut bumi sebelah mana mereka akan terjatuh, dan angin semacam apa yang akan membawa mereka bergerak sampai berhenti, sebagaimana mereka tak pernah bisa mengorder atau memilih dari keluarga semacam apa mereka dilahirkan, jalan kehidupan seperti apa yang akan mereka lalui, dan dalam kondisi yang bagaimana mereka akan meninggal dunia.

Ia bentuk nasib, bagus berupa kebaikan maupun keburukan, mendapatkan tanda ataupun tidak, sebetulnya sudah ditetapkan oleh Allah SWT dan telah tertulis di Lauh Mahfuudz jauh sebelum penanggung nasib tersebut dihasilkan, tanpa dia bisa mengorder atau memilih nasibnya itu sendiri. Allah SWT menegaskan hal hal yang demikian dalam al-Qur’an sebagaimana yang artinya berikut ini:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada opsi bagi mereka.” (Al-Qashash: 68)

“Tiada suatu petaka malahan yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri tapi sudah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuudz) sebelum Kami menciptakannya. Segala yang demikian itu adalah gampang bagi Allah.” (Al-Hadiid: 22)

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tak akan menimpa kami namun apa yang telah diatur oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang beriman sepatutnya bertawakkal.’” (At-Taubah: 51)

“Katakanlah: ‘Bila tak berkuasa mendatangkan marabahaya dan tak (pula) kemanfaatan kepada diriku (sendiri), melainkan apa yang dikehendaki Allah.’ Karenanya-setiap umat mempunyai ajal. Ia telah datang ajal mereka, karenanya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat malahan dan tak (pula) mendahulukan (nya).” (Yunus: 49)

“Bagus Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” (Ibrahim: 4)

Setidaknya, dari makna ayat-ayat hal yang demikian, kita dapat kian meyakini bahwa sebenarnya perkara menjadi mampu ataupun lemah, beruntung atau kurang beruntung, sampai pun mendapat hidayah ataupun justru tersesat, pada hakikatnya telah ditentukan oleh Allah SWT jauh sebelum semua itu menjadi kenyataan. Kita mungkin juga ingat dikala dua orang penghuni penjara menanyakan makna dari mimpi mereka masing-masing terhadap Nabi Yusuf AS, di mana beliau langsung menjelaskan bahwa perkara yang mereka pertanyakan maknanya tersebut pada hakikatnya telah ditentukan sebelum perkara itu menjadi kenyataan nantinya. Dan pada akhirnya malah takwil beliau hal yang demikian juga benar-benar menjadi kenyataan. Dan berikut inilah makna ungkapan Nabi Yusuf AS hal yang demikian:

“Karenanya diputuskan (diatur) perkara yang kalian berdua mempertanyakannya (kepadaku).” (Yusuf: 41)

Jadi, dari sini kita akan seharusnya mengakui bahwa sebenarnya tiada yang pernah berubah dari ketentuan atau ketentuan Allah SWT di masa lalu. Penghuni penjara yang sudah diatur nasibnya dalam Lauh Mahfuudz untuk dibebaskan sampai ia dapat memberi minuman khamr terhadap tuannya, maka dia akan pasti menjalani ketetapan tersebut. Dan penghuni penjara yang telah diatur nasibnya untuk disalib sampai sebagian kepalanya seharusnya dimakan oleh burung juga tak akan mungkin dapat menghindar dari ketentuan hal yang demikian. Seluruh wujud ketetapan sudah sempurna, dan yang belum sempurna hanyalah pelaksanaannya saja.

Baik sesungguhnya, yang ketika ini telah mendapat sebuah kebaikan berupa hidayah iman dan Islam, semisal, ialah karena memang jauh sebelumnya sudah ditentukan untuk mendapatkan hidayah hal yang demikian pada saat ini. Dan yang saat ini belum mendapat hidayah iman dan Islam malahan juga adalah karena memang sebelumnya sudah diatur untuk belum memperoleh hidayah hal yang demikian saat ini. Dan cuma Allah SWT sajalah yang lebih tahu perihal siapa saja yang telah dan akan memperoleh hidayah-Nya. Ini berarti bahwa memang perkara hidayah pada hakikatnya juga tidaklah dapat dipaksakan, demikian juga dengan perkara-perkara yang lain. Semuanya hanya akan terbentuk dan terlaksana cocok ketetapan Allah SWT saja, dan bukan atas paksaan hamba-Nya sendiri, karena pena taqdir sudah selesai digoreskan dan tiada yang akan bisa memaksa catatan taqdir tersebut untuk berubah. Dalam riwayat hadits telah diceritakan yang artinya berikut ini:

“Ketahuilah, bahwa jikalau semua umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kepadamu, selain dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, bila mereka berkumpul untuk menimpakan suatu marabahaya kepadamu, karenanya mereka tak akan dapat menimpakan marabahaya kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena sudah diangkat dan lembaran-lembaran sudah kering.” (Riwayat at-Tirmidzi)

“Allah telah menuliskan taqdir-taqdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menghasilkan langit dan bumi.” (Riwayat Muslim)

Dan dari sini, mungkin akan timbul sebuah pertanyaan, merupakan kalau memang segala format nasib di masa depan rupanya telah ditentukan atau ditetapkan, lalu mengapa dan untuk apa kita diperintahkan untuk bertingkah dan berusaha untuk merubah nasib kita? Tapi di satu sisi, al-Qur’an dan al-Hadits menjelaskan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya sudah ditentukan dan telah tertulis di dalam Lauh Mahfuudz, jauh sebelum semuanya dihasilkan, meskipun di sisi lain, al-Qur’an juga membeberkan bahwa nasib suatu kaum itu tidak akan berubah bila kaum itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya? Kita tentu juga tak dapat mengacuhkan eksistensi ayat al-Qur’an yang artinya berikut ini:

“Semua Allah tidak merubah situasi sesuatu kaum sehingga mereka mengubah kondisi yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11)

Dalam hal ini, tentu pertanyaan yang timbul semacam itu tidaklah bisa kita hindari, karena memang kita seakan-akan mendapati dua kaidah yang nampak saling bertentangan. Ia pada hakikatnya, dikala kita wajib mengamati ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat hadits secara keseluruhan, sebetulnya wujud perintah untuk berbuat dan mengubah situasi semacam itu tak lain ialah sebagai format karena yang sudah dikehendaki oleh Allah SWT, yang mana melewati karena itulah Dia akan mengubah gerakan hati suatu kaum untuk menasihati ikhtiar mereka terhadap suatu tindakan atau amal tertentu, sampai nasib mereka malah menjadi pantas dengan apa yang telah Dia tetapkan sebelumnya.

Pada intinya, Allah SWT telah memastikan bahwa semenjak manusia tak diberitahu seputar nasib atau taqdir masa depan mereka, karenanya mereka malah menjadi wajib berikhtiar dan bertindak sesuatu untuk memenuhi nasibnya, yang pada hakikatnya juga Allah SWT sendirilah yang berkuasa menggerakkan mereka ketika mereka hingga bergerak dan berubah, sebagaimana saat Allah SWT sendiri jugalah yang berkuasa menciptakan mereka melempar dikala mereka hingga melempar. Pada resumenya, hakikat taqdir itu baru akan diketahui ketika sesuatu telah terjadi. Artinya, saat semisal suatu momen baik ataupun buruk telah riil terjadi di antara manusia, maka memang itulah yang telah ditaqdirkan oleh Allah SWT atas mereka. Adapun taqdir masa depan, karenanya Allah SWT sengaja merahasiakannya agar kerahasiaan hal yang demikian menjadi karena bagi gerakan mencari atau ikhtiar manusia, dan supaya mereka tak berputus hasrat atas apa yang telah lalu ataupun sampai terlalu merasa aman dengan nasib masa depan akhirat mereka.

Dan dari beberapa keterangan tentang hakikat taqdir tersebut, kita akan bisa menyimpulkan bahwa sesungguhnya yang bisa menyelamatkan diri kita di dunia ini ataupun di akhirat kelak rupanya bukanlah diri kita sendiri, melainkan Allah SWT dengan ketentuan dan kekuasaan-Nya. Tidak semisal suatu kaum dapat selamat dari sebuah kesusahan, maka sebetulnya keberhasilan tersebut bukanlah atas kesanggupan atau kekuasaan mereka sendiri, tetapi atas ketentuan dan kekuasaan Allah SWT semata. Sebetulnya juga dikala mereka menonjol tidak berhasil dalam usaha mereka, yang mana itu juga bukanlah atas kehendak mereka sendiri, melainkan memang karena mereka tak mungkin mampu memaksakan apa yang bukan menjadi hak mereka. Seluruh format kebaikan berupa pencapaian, kemampuan, hingga keselamatan manusia, pada hakikatnya hanyalah atas kekuasaan dan rahmat Allah SWT, dan bukan atas kekuasaan manusia itu sendiri. Sebuah riwayat hadits juga telah menguatkan hal tersebut sebagaimana yang artinya berikut ini:

“Dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda: ‘Ketika seorang bahkan di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya.’ Seorang lelaki bertanya: ‘Engkau malahan tak, aduhai Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Apabila juga tidak, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Akan tapi, tetaplah kalian berusaha bertindak dan berkata yang benar.’” (Riwayat Muslim)

Dari makna riwayat tersebut, kita akan patut mengakui bahwa hakekatnya bukanlah amalan kita yang akan dapat menyelamatkan kita di akhirat kelak, melainkan Allah SWT sendirilah yang akan cakap menyelamatkan kita melewati rahmat-Nya. Ia demikian, padahal bukan amalan kita yang akan dapat menyelamatkan kita nantinya, kita tetap diharuskan untuk berupaya bersedekah dengan benar, sebab memang isyarat rahmat Allah SWT itu akan dapat dikenal lewat amalan ketaatan kepada-Nya. Tak Allah SWT telah berkehendak untuk merahmati suatu kaum atau memberi mereka hidayah, maka Dia akan mewujudkan mereka beramal ketaatan terhadap-Nya. Dan cuma Allah SWT sajalah yang lebih tahu terhadap siapa saja Dia memberikan rahmat-Nya hal yang demikian.

Pada reviewnya, dikala sebuah kebaikan atau nikmat bisa terwujud dalam suatu kaum, baik berupa sedap yang menonjol simpel sampai enak yang seperti itu berharga seperti hidayah iman dan Islam, karenanya mereka mesti mengalamatkan seluruh kebaikan atau sedap hal yang demikian kepada Allah SWT semata, sebagaimana dicontohkan dalam ungkapan ayat al-Qur’an yang artinya berikut ini:

“Dan kami sekali-kali tak akan mendapat hidayah kalaulah Allah tidak memberi kami hidayah.” (Al-A’raaf: 43)

Dia, ketika suatu keburukan sudah terjadi dan menimpa kaum hal yang demikian, karenanya keburukan itu sepatutnya dialamatkan kepada diri mereka sendiri, sedangkan mereka juga semestinya meyakini bahwa itu juga hanya bisa terjadi dengan izin dan kehendak Allah SWT semata. Allah SWT berfirman yang artinya berikut ini:

“Apa saja nikmat yang kau temukan, karenanya itu merupakan dari Allah, dan apa saja petaka yang menimpamu, maka (itu ialah) dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (An-Nisaa’: 79)

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami namun apa yang telah ditentukan oleh Allah bagi kami.’” (At-Taubah: 51)

Dan demikian itulah bentuk aqidah umat Islam dalam menyikapi taqdir, yakni bahwa seluruh kebaikan yang ada haruslah senantiasa dikembalikan kepada Allah SWT, padahal segala keburukan yang terjadi haruslah selalu dikembalikan kepada kekeliruan diri mereka sendiri, sambil meyakini dengan sepenuhnya bahwa seluruh kebaikan dan keburukan juga hanya dapat terjadi dengan izin dan kehendak Allah SWT semata. Aqidah semacam inilah yang layak dengan kehendak syari’at Allah SWT, atau yang disebut dengan iraadah syar’iyyah Allah SWT. Adapun wujud kesesatan aqidah dalam perkara taqdir, maka itu ialah ketika kita sampai memprotes atau menyalahkan Allah SWT atas semua ketetapan-Nya, seperti saat kita hingga berlarut-larut mempertanyakan keadilan Allah SWT bagi segenap makhluq-Nya yang riilnya berbeda nasib antara satu dengan yang lainnya. Baik semoga kita umat Islam selalu dilindungi Allah SWT dari bentuk kesesatan semacam itu.

Demikianlah. Dan dari itu semua, sejak kita umat Islam sama-sama tak tahu persis keselamatan nasib masa depan kita nantinya, karenanya setidaknya kita tak saling mendoakan keburukan sekiranya kita tak sampai saling mendoakan keselamatan satu sama lain. Segala tiada manusia yang dapat melarikan diri dari agenda dan ketetapan Allah SWT, yang karena itulah kita tak semestinya terlalu merasa aman, sampai kita pun menonjol terlalu lepas dan merasa leluasa untuk cenderung mencela perkara yang buruk tetapi tanpa berupaya memberikan pembetulan, atau pun hingga kita melupakan keburukan diri kita sendiri. Dia saja keburukan akan dapat diperbaiki cuma dengan celaan dan tuduhan, maka mungkin Rasulullah Muhammad SAW akan lebih banyak mengajarkan kita umatnya bagaimana metode mencela dan menuduh ketimbang mengajari kita bagaimana metode menyikapi keburukan.

Kita tentu mengakui bahwa sebetulnya tiada manusia yang terjaga dari kekeliruan dan dosa seperti Rasulullah SAW, dan bahwa sebenarnya tiada pemilik rahmat selain Allah SWT, yang karena itulah, mungkin akan lebih seharusnya seandainya kita biarkan saja pintu rahmat Allah SWT konsisten terbuka bagi umat beliau sebagaimana mestinya. Ia Rasulullah SAW hingga perlu untuk menyeru raja-raja non-Muslim agar memeluk Islam, maka tentu sangatlah bertentangan sekiranya kita yang sudah memeluk Islam justru cenderung saling berharap mengeluarkan sesama Muslim dari Islam, misalnya dengan saling mengkafirkan tanpa bukti dan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, atau malahan hingga menuduh seseorang yang telah bersyahadat sebagai Dajjal. Ia memang umpamanya seseorang tampak murtad dari Islam sekalipun, maka mungkin akan lebih bagus sekiranya kita mencari bukti yang terang dan nyata terutamanya dahulu sebelum kita menghukuminya, supaya tuduhan kafir tersebut tidak kembali kepada diri kita sendiri kalau rupanya orang hal yang demikian tidaklah seperti yang kita tuduhkan. Sebetulnya bagaimanapun juga, perkara batin hanyalah kawasan Allah SWT semata. Adapun perkara praktis, maka itu tidaklah bisa dievaluasi sekedar mengaplikasikan prasangka belaka.

Segala semua wujud enak dan kebaikan hanyalah milik Allah SWT, dan tiada yang pernah benar-benar menjadi milik kita sendiri. Kapan saja Allah SWT memiliki hak mencabut atau memberi apa saja, dari dan terhadap siapa saja yang dikehendaki-Nya. Baik sebenarnya tidak pernah ada kerugian saat sesuatu memang sudah diatur untuk luput atau hilang, dan tiada yang perlu diakui sebagai milik sendiri dikala yang sudah ada tetaplah ada, sebab memang seluruh ketetapan hanyalah terserah kepada Allah SWT, walaupun kita hanya diperintahkan untuk menerimanya saja. Semua cuma saat kita meragukan ayat-ayat dan janji-komitmen Allah SWT sajalah fikiran negatif dan prasangka buruk akan lebih banyak menguasai kita. Bagus semoga Allah SWT senantiasa menganugerahi kita umat Islam fikiran-fikiran positif yang melahirkan kedamaian dan toleransi di tengah-tengah keragaman posisi dan peran umat Islam, supaya kita dapat saling mengingatkan satu sama lain dengan metode yang lebih baik lagi, tanpa kekerasan ataupun pemaksaan yang berdampak kerusakan yang lebih besar. Dan semoga Allah SWT menghasilkan umat Islam lebih banyak bersyukur atas hidayah iman dan Islam, serta memperkuat ikatan keimanan mereka padahal kongkritnya mereka menonjol terpisah secara peran dan fungsi. Semua cuma dari dan milik Allah SWT sajalah seluruh kebenaran, hidayah dan taufiq.



Bantu penulis dengan share: