Berkeinginan Sehat, Semestinya Kembali ke Pola Hidup Rasulullah

Pada masa lalu, Indonesia menghadapi persoalan kesehatan warganya berupa malnutrisi kekurangan gizi. Melainkan kini, masalahnya berbalik. Masyarakat menghadapi situasi sulit malnutrisi berupa kelebihan nutrisi sebab kebanyakan makanan.

\”Kolesterol, ini penyakit kelebihan gizi, penyakit kalangan menengah ke atas. Tukang ojeg saja sekarang kena asam urat imbas kolesterol. Ini imbas makanan yang murah,\” ungkap Dokter Uwais, ketika mengisi Seminar Kesehatan Islam dan Alami di Masjid Al-Khalifah, Jakarta Islamic Center, Kalimalang, Jakarta Timur, Sabtu petang, 9 Oktober 2016.

Karena itu, dokter yang juga organisator Jamaah Tabligh ini mengingatkan supaya kembali ke pola hidup sehat cocok bimbingan Rasulullah Saw. Ia juga mengaingatkan, berkaitan makanan ini Allah Swt telah memberikan peringatan dalam Surat Abasa ayat 24, \”Karenanya hendaklah manusia itu mengamati makanannya.\”

\”Untuk sehat, kembali ke pola hidup Rasulullah Saw. Bagaimana cara dan tata krama beliau makan, bagaimana cara duduk beliau ketika makan termasuk bagaimana sistem mengambil makan itu dibatasi,\” tambah Uwais.

Minum saja, lanjut Uwais, ada sejumlah budi pekerti yang wajib dipatuhi supaya sehat. Diantaranya, duduk dan pegang dengan tangan kanan, air minumnya dipandang lalu membaca basmallah. Hendaknya juga meminum tiga kali dengan masing-masing ada juga bernafas. Kemudian membaca hamdalah. \”Ada jeda napas itu dapat meningkatkan mutu air,\” tambahnya.

Bukan cuma pola makan, dalam berobat bahkan Dokter Uwais memberi rekomendasi agar dikerjakan dengan cara sunnah. Salah satu terapi kesehatan yang dilaksanakan oleh Dokter Uwais ialah Al-Fashdu. Terapi ini didasarkan pada hadits Rasulullah Saw dalam Sahih Bukhari, \”Sebaik-bagus pengobatan yang kalian lakukan merupakan hijamah dan fashdu.\”

Praktik Terapi Fashdu oleh dr Uwais.

Al-Fashdu menurut bahasa Arab yaitu menyayat yang dilakukan pada pembuluh vena atau istilah lainnya venasuction. Terapi ini bisa dijalankan di pembuluh vena yang ada di kepala, tangan, kaki, punggung, belakang kuping dan lidah.

Saat sesi praktik, Dr Uwais mencoba terapi Al Fashdu ini pada lima orang peserta. Semuanya diterapi pada kakinya.

Selain Dr Uwais, seminar kesehatan yang baru digelar oleh Departemen Tarbiyah JISc ini dihadiri oleh RM Alfian, M.Si seorang Herbal Medik tamatan Farmasi Pasca Sarjana Universitas Indonesia.



Bantu penulis dengan share: