Bersedekah Jelas-Terangan Atau Mengumpet?

Bersedekah Jelas-Terangan Atau Mengumpet?

Beramal secara terang-terangan atau sembunyi sama-sama diperkenankan dalam agama Islam. Allah telah memerintahkan dan membolehkan bersedekah bagus itu secara terang-terangan atau malah dengan metode sembunyi-sembunyi seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 75, dan surat Faathir ayat 29.Bersedekah Terang-Terangan Atau Ngumpet?

Beramal Jelas-Terangan Atau Sembunyi?

Nabi Muhammad saw sudah memberikan teladan bahwa sedekah secara terang-terangan boleh dijalankan. Pada masa perang Tabuk, dibutuhkan bekal yang banyak untuk pasukan muslim. Nabi Muhammad saw mengumpulkan para teman dan bertanya siapa yang mau mendonasi atau beramal? Silahkan berdiri. Karenanya berdirilah Utsman Bin Affan, beliau menyuarakan beramal 100 ekor unta dan kemudian ditambahnya lagi 200 ekor, sehingga jumlah yang disedekahkannya itu menjadi 300 ekor unta.

Figur sedekah dengan sistem ngumpet-mengumpet dikerjakan oleh sayyidina Ali Zainal Abidin (cucu Nabi Muhammad saw). Beliau memberi sedekah kepada kaum fakir miskin kota Madinah. Metode yang beliau lakukan yaitu dengan memberi bekal atau makanan pada malam hari dengan menutupi wajahnya sehingga orang yang diberi sedekah tak tahu siapa orang yang memberinya. Hal ini baru dikenal saat beliau meninggal, dikala ketika jasadnya dimandikan ada bekas hitam di pundak beliau. Setelah ditanya-tanya kepada kerabat, hasilnya salah seorang pembantu beliau mengatakan bahwa itu ialah bekas memikul makanan yang beliau lakukan sendiri di malam hari mengantarkan makanan pada fakir miskin dan dia (asisten tadi) pernah memergokinya satu kali kemudian menawarkan diri untuk memikul makanan itu melainkan sayyidina Ali Zainal Abidin menolaknya.Beramal Jelas-Terangan Atau Bersembunyi?

Beramal Jelas-Terangan Atau Mengumpet?

Dengan dua contoh di atas, bisa diamati bahwa sedekah boleh dilaksanakan terang-terangan dan boleh juga dikerjakan secara sembunyi. Mana yang kita pilih itu tergantung kita sendiri yang menentukannya karena saat telah berlapang dada dan sukarela, tentu tak ada situasi sulit kepada kedua hal itu. Hanya saja, dikala beramal jelas-terangan, bisakah kita meredam hati atau perasaan kita supaya jangan hingga hal itu menjadi riya.



Bantu penulis dengan share: