Bila Tak Kapabel Membalas Kebaikan Saudaramu, Maka Doakan Ia

Sekiranya Tidak Kapabel Membalas Kebaikan Saudaramu, Maka Doakan Ia

Allah Ta\’ala, berfirman:

وَالَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوٰنِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

\”Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Kuasa kami, sungguh, Engkau Kuasa Penyantun, Ilahi Penyayang.\” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 10)

Bertingkah baik terhadap sesama merupakan keharusan bagi tiap-tiap muslim. Seseorang yang memperoleh kebaikan dari saudaranya, hendaknya bersyukur atas kebaikan hal yang demikian. Bila kapabel, kita direkomendasikan membalas kebaikan orang lain dengan yang lebih baik. Andaikan kita tak mampu membalas kebaikannya, maka doakan mereka bagus secara jelas terangan ataupun tersembunyi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Dan barang siapa yang berbuat baik terhadap kalian maka balaslah (kebaikannya) dengan kebaikan yang setimpal dan sekiranya kalian tidak memperoleh sesuatu untuk membalas kebaikannya maka berdo’alah untuknya hingga kalian merasa sudah membalas kebaikannya.” (HR. Ahmad)

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhu bercerita, “Suatu ketika, Rasûlullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke kamar kecil (untuk buang hajat). Karenanya aku menyediakan air bersih untuk Beliau pakai berwudhu. Ketika Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selesai dari hajatnya, Beliau bertanya, “Siapakah yang telah meletakkan (air wudhu) ini?” Kemudian Beliau diberitahu, bahwa akulah yang sudah mengerjakannya. Maka Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam (membalas kebaikanku dengan) berdoa: “Ya Allah… berikanlah dia (Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu’anhu) pemahaman dalam agama”. [HR.Bukhaari no.134 dan Muslim no. 6318]

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Shafwan, ia ialah Ibnu ‘Abdillah bin Shafwan, dan umur ad-Darda’ di bawahnya, beliau berkata: “Saya pergi ke Syam dan mendatangi Abud Darda’ Radhiyallahu anhu di rumahnya, tetapi beliau tak ada di rumah, yang ada hanyalah Ummud Darda’ رَحِمَهَا اللهُ تَعَالَى, dia berkata: ‘Apakah tahun ini engkau akan pergi haji?’ ‘Ya,’ jawabku. Dia berkata: ‘Do’akan kami dengan kebaikan, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilaksanakan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya, merupakan do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Tiap kali ia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang dia peroleh.’”
‘Abdullah berkata: “Lalu saya pergi ke pasar dan bersua dengan Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, lalu beliau menyatakan kata-kata seperti itu yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR.Muslim)

Begitulah Akhlaq seorang muslim terhadap saudaranya, dikala mendapat kebaikan mereka saling mendoakan, sebagaimana Rasulullah dan para sahabat dulu. Demikianlah Aqidah dan iman seorang muslim senantiasa ingat akan kebaikan kebaikan saudaranya, sebab mereka sadar bahwa situasi kita kini dan akan datang bisa jadi kemungkinan atas doa dari saudara muslim nya.

Wallahu a\’lam



Bantu penulis dengan share: