Biografi Buya Yahya Zainul Maarif al Bahjah

Islam Indonesia –  Siapa yang tak kenal ulama muda satu ini? Terlebih mereka yang mendiami Kota Cirebon, Jawa Barat. Beliau adalah Buya (Kiai Haji) Yahya Zainul Maarif atau lebih sohor wal masyhur dengan sapaan Buya Yahya. Dikenali sebagai ulama muda yang tinggi keilmuan nya, juga sebagai ajeungan sekaligus pengelola ma’had (Pondok Pesantren) al-Bahjah Cirebon. Tim redaksi islamindonesia.info akan menyajikan artikel dan infografis mengenai biografi buya yahya yang kami rangkum dari berbagai sumber.

Inilah Profil atau Biografi Buya Yahya Zainul Maarif al-Bahjah Cirebon

Nama Asli:
Yahya Zainul Ma’arif.
Nama Masyhur: Buya Yahya Cirebon.
Kelahiran: Blitar.10-Agustus-1973
Profesi: Da’i, ulama muda.
Agama: Islam.
Aliran:
Ahlussunnah wal Jama’ah. Syafi’iyyah. asy-Ariyyah.
Istri: Fairuz ar-Rohbini.
Jumlah Anak: 4.
Orang Tua: Jamzuri.

Biografi Buya Yahya ini kami awali dulu dengan kedatangan beliau ke Cirebon pada akhir tahun 2005. Berawal dari tugas yang diampu dari syaikh sekaligus rektor beliau di Universitas al-Ahgoff, Yaman, beliau kemudian menjalani tugas dari sang guru untuk mengelola sekaligus memimpin pesantren persiapan (ma’had i’dad) mahasiswa sebelum menjalani rihlah ilmu ke Universitas al-Ahgoff, Yaman.

Biografi Buya Yahya Zainul Maarif al Bahjah
Infografis Buya Yahya by: Indra

Ketika menjalani tugas mengajar di Cirebon, beliau bersama teman-teman seperjuangan menyewa tempat di pondok pesantren Nuurusshidiq, Tuparev. Di tempat tersebut, beliau hidup bersama Ustadz Budi Abdullathif, Habib Hasan al-Jufri, Ustadz Fathurrohman dan Ustadz Abdul Aziz Muslim. Perlu diketahui oleh para pembaca sekalian, pada tahun 2005 sampai pertengahan 2006, Buya Yahya yang masih muda belum mendapat izin dari syaikh nya untuk terjun berda’wah ke masyarakat.

Awal Berda’wah di Cirebon dari Musholla ke Musholla

Selepas mendapatkan izin, pada tahun 2006, beliau mengawali nya dengan penuh rasa sabar dan tawakkal pada Alloh ta’ala. Dimulai dari musholla kecil, dan walhamdulillah diberikan kemudahan oleh Alloh ta’ala untuk menjadi pengisi berbagai majlis ilmu di berbagai masjid jami’ di Cirebon, bahkan.. Masjid at-Taqwa alun-alun Cirebon pun tak luput dari kehadiran nya. Saat ini di masjid at-Taqwa alun-alun senantiasa disesaki oleh para mustami’ dan thullabul ‘ilmi ketika malam Senin dan Selasa, hal tersebut tidak lain dan tidak bukan, hanya demi hadir di roudhotul jannah (taman surga) atau majlis ilmu yang diampu oleh Buya Yahya Zainul Ma’arif. Beliau meyakini, hal tersebut tidak akan terjalani dengan sempurna tanpa izin dari Alloh ta’alaa. Lantas, sikap ta’zhim (hormat) beliau kepada para masyaikh nya di Yaman ketika menimba ilmu, termasuk Habib Abdulloh Baharun, kini menampakan hasilnya atas izin Alloh ta’ala yang diperlihatkan Alloh melalui sikap ta’zhim para thullab dan mustami’ kepada Buya.

Rihlah Ilmu Buya Yahya Dari Tsanawiyah Hingga Kuliyyah

Sebelum beliau melanjutkan studi ke Yaman, diawali dahulu dari Madrasah Diniyah yang diasuh oleh seorang kiai yang sholih, ya’ni KH. Imron Mahbub dan juga beliau bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang juga masih di kota Blitar.

rauffa apparel

Buya Yahya yang masih “hijau” keilmuan nya kala itu, memutuskan untuk melanjutkan pendidikan agama islam di Pondok Pesantren (PP) Daarul Lughoh Wad Da’wah – Bangil, Pasuruan Jawa Timur, yang diasuh oleh al-Murobbi al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun, tepatnya pada tahun 1988 sampai 1993. Keberhasilan beliau dalam menghafal berbagai matan ilmu dan pengamalan nya membuat Buya dipercaya dan diberikan tugas mengabdi untuk memberikan pelajaran kepada santri di PP Daarul Lughoh Wad Da’wah – Bangil. Sang guru tak tinggal diam, al-Habib Hasan diam-diam mengamati kinerja Buya Yahya yang mulai matang keilmuan nya, atas perintah beliau pula lah Buya Yahya melanjutkan langkah rihlah ilmu nya ke Universitas al-Ahgoff Yaman, dari tahun 1996 sampai 2005.

Buya Yahya Kuliyyah di Negeri Yaman

Walhamdulilah wa syukrulillah, Buya Yahya talaqqi ilmu fiqh kepada Mufti Hadromaut, ya’ni Syaikh Fadhol Bafadhol. Selain kepada Syaikh Fadhol, Buya Yahya juga menimba ilmu kepada Syaikh Muhammad al-Khotib, Syaikh Muhammad Baudhon, dan Habib Ali Masyur bin Hafidz.

Menarik juga untuk dibahas pada artikel biografi buya yahya kali ini, selain belajar ilmu fiqh, beliau juga menyempatkan waktu dan memberikan tenaganya demi mempelajari ulumul hadits kepada DR. Ismail Kadhim al-Aisawi, Habib Salim asy-Syathri, dan Sayyid Ahmad bin Husin as-Seggaf.

Semangat beliau di masa muda patut dicontoh para santri masa kini yang ingin sukses berda’wah di jalan Alloh ta’ala. Di sela kesibukan beliau menjalani kuliyyah di Universitas, beliau juga menyempatkan waktu untuk menambah khazanah keilmuan di Rubath (Pondok Pesantren) Tarim sebanyak 4 kali seminggu.

Buya Yahya Mengajar di Yaman

Kematangan Buya Yahya mulai tampak. Walhamdulillah, beliau pernah mengajar di Dirosah Islamiyyah al-Ahgoff dan di Fakultas Tarbiyah Universitas al-Ahgoff, Yaman. Kini, beliau dikenali sebagai salah satu ulama muda ASWAJA yang mengasuh berbagai majlis ta’lim, dan juga Pondok Pesantren (Ma’had) al-Bahjah, Cirebon, Jawa Barat.

Buya Yahya Mulai Di Izinkan Berdakwah di Cirebon

Ketika masa tugas dan belajar di Yaman telah diselesaikan dengan baik, pada pertengahan tahun 2006, beliau kembali lagi ke Cirebon. Walhamdulillah, karena sudah dinilai mumpuni, beliau di izinkan untuk berdakwah.

Buya Yahya Mulai Dikenali Cirebon dan Sekitarnya

Tak cuma Cirebon saja yang menerima kehadiran sejuknya berbagai nasihat dan ilmu agama beliau. Ternyata Majalengka dan juga Kuningan menyambut baik kehadiran beliau. Termasuk LP Kesambi, Cirebon dan Matahari Dept. Store, Grage. Kini, nama beliau semakin membumi, terlebih setelah berhasil membangun majlis sekaligus ma’had al-Bahjah di Cirebon.

Walhamdulillah, selesailah biografi Buya Yahya kali ini. Semoga para pembaca sekalian dapat mendapat ibroh wal manfaat dari artikel kita kali ini. Bookmark dan simak terus website islamindonesia.info , doakan kami istiqomah memberikan artikel-artikel islam yang menarik. Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wa barokaatuh.

Bantu penulis dengan share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *