Bolehkah Mendoakan Orang Kafir \’\’Jazakallahu Khaira\’\’?

Islam memerintahkan terhadap umatnya supaya menjadi orang bersyukur kepada orang yang telah bertingkah bagus kepada dirinya. Yakni berterima kasih dan balas budi kepadanya. Sifat syukur ini menjadi pedoman syukurnya seorang hamba terhadap Al-Syakir, Allah yang Maha Syukur.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu \’Anhu, Rasulullah Shallallahu \’Alaihi Wasallam bersabda,

لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidaklah berterima kasih kepada Allah orang yang tak dapat ber’syukur’ kepada manusia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al-Bukhari dalam Al-Moral al-Mufrad. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Shahihah)

Dalam redaksi milik Imam Al-Tirmidzi,

مَنْ لمْ يشْكُر النَّاسَ لَمْ يشْكُر الله

“Siapa yang tak berterima kasih terhadap manusia karenanya ia –sebetulnya- tak berterima kasih kepada Allah.”

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Al-Asy’’ats bin Qais Radhiyallahu \’Anhu, Rasulullah Shallallahu \’Alaihi Wasallam bersabda,

إن أشكرَ الناس لله عز وجل أشكرُهم للناس

“Sebetulnya orang paling bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla yaitu orang yang paling bisa bersyukur kepada manusia.”

Imam Al-Khaththabi Rahimahullah menerangkan bahwa hadits-hadits ini mengandung celaan bagi siapa yang tak bersyukur terhadap jasa/kebaikan orang lain kepada dirinya. Hadits ini juga mengandung saran untuk berterima kasih terhadap manusia atas kebaikan yang mereka berikan. Dan berterima kasih terhadap kebaikan orang dapat dengan pujian, ucapan baik, dan doa untuk mereka.

Kemudian beliau merinci makna hadits-hadits ini dalam dua komponen: Pertama, orang yang tabiat dan karakternya suka kufur kepada kebaikan orang kepada dirinya dan tidak beryukur (ucapan terima beri dan balas budi) kepada kebaikan mereka menonjolkan adat istiadatnya yang kufur kepada enak Allah Ta’ala dan tak berterima kasih kepada-Nya.

Kedua, Allah Subahanahu wa Ta\’ala tak akan mendapatkan syukur seorang hamba atas anugerah Allah kepadanya jika hamba hal yang demikian tak berterimakasih terhadap kebaikan orang-orang yang kufur terhadap kebaikan mereka. (Dari Ma’alim Al-Sunan: 4/113)

Metode berterima kasih terhadap orang lain atas kebaikannya dapat dengan ucapan terima kasih, kebanggaan, dan mendoakan dengan Jazakallahu khaira atau doa kebarokahan atau doa berisi kebaikan lainnya. Kesempurnaanya, dengan membalas kebaikannya dengan kebaikan materi serupa atau lebih baik.

Terhadap sesama muslim mendoakan “Jazakallahu Khaira” disepakati sarannya. Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu \’Alaihi Wasallam,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا . فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa dikasih kebaikan oleh orang lain lalu ia berkata kepadanya Jazakallahu Khaira (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), karenanya ia sudah memujinya dengan setinggi-tingginya.” (HR. Al-Tirmidzi)

[Baca: Hukum Ucapan \’\’Waiyyaka\’\’ untuk yang Mendoakan \’\’Jazakallahu Khaira\’\’]

Bagaimana apabila ucapan doa ini dialamatkan kepada orang kafir yang telah bertingkah bagus atau berbagi kebaikan kepada kita?

Imam al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menghubungkan hadits dengan bahasan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seislam). Merupakan sekiranya seseorang berkata kepada saudara seislamnya yang sudah berperilaku baik kepada dirinya “Jazakallahu Khaira” yang maknanya semoga Allah menetapkan kebaikan dan membalas kebaikan untukmu.

Sekiranya ia ucapkan “Jazakallahu Khaira” dia telah menunaikan syukur dan balas budinya dengan berucap yang baik dan memintakan pahala besar kepada Allah untuknya. Jika ini digabung dengan memberikan tipe kebaikan serupa tentunya lebih sempurna format syukur itu.

Ucapan Jazakallahu khaira saja, telah mencukupkan dirinya dari balas budi serupa karena kelemahan dirinya untuk mendatangkan kebaikan materi serupa.

Imam Al-Munawi menambahkan, bahwa doa “Jazakallahu Khaira” ini khusus bagi muslim. Jikalau ada seorang kafir dzimmi yang bertindak baik kepada seorang muslim, dia mendoakan kafir dzimmi hal yang demikian dengan diperbanyak hartanya, si kecilnya, diberi kesehatan dan kemapanan.

Intinya, instruksi bersyukur (terima kasih) kepada orang yang telah berbuat baik terhadap kita meliputi muslim dan kafir. Apabila seorang non muslim memberi atau berperilaku bagus terhadap kita, maka kita mesti berterima beri kepadanya. Tentu dengan kalimat yang pantas kondisinya. Seperti kalimat terima kasih, memuji kebaikannya, atau semisalnya.

Diperkenalkan kepada Sa’id bin Jubair Rahimahullah, “Seorang Majusi telah bertindak baik kepadaku, apakah saya mesti berterima kasih kepadanya. Beliau menjawab: Ya.” (Al-Budi Al-Syar’iyah: 1/316)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab soal atas pertanyaan syukur terhadap non muslim,

إذا أحسن إليك أحدٌ من غير المسلمين، فكافئه، فإن هذا من خلق الإسلام، وربما يكون في ذلك تأليفٌ لقلبه فيحب المسلمين فيسلم

“Jikalau seorang non muslim sudah bertindak bagus kepadamua karenanya balaslah kebaikannya, sebab ini bagian dari tata krama Islam. Boleh jadi dalam ini mempesona hatinya sehingga ia mencintai kaum muslimin sehingga ia masuk Islam.”

Penutup

Bentuknya beri, mendoakan kebaikan, dan balas budi bentuk syukur seseorang terhadap orang lain yang telah bertingkah bagus kepadanya. Adapun doa khusus sebagai bentuk syukur telah disebutkan dalam hadits, merupakan “Jazakallahu Khaira”. Ini khusus bagi seorang muslim kepada muslim lainnya. Adapun kepada orang kafir didoakan berhubungan kebaikan materi duniawinya atau doa petunjuk (tentu: dibelakangnya).

Intinya, terhadap non muslim yang sudah bertingkah baik kepada seorang muslim, dia konsisten diperintahkan untuk bersyukur kepadanya. , ucapan terima kasih, doa berhubungan duniawinya, dan membalas dengan materi yang sebanding dengan pemberiannya. Wallahu A’lam.



Bantu penulis dengan share: