Gagal Mencuri, Pemuda Ini Malah Dinikahi Janda Cantik Nan Kaya

Islam Indonesia – Alkisah, dahulu kala.. Suriah adalah negeri yang damai dan menjadi salah satu pusat pengkajian ilmu-ilmu agama Islam. Selain itu, di Suriah terdapat berbagai tempat peristirahatan terakhir (makam) para sahabat nabi & orang-orang sholih, salah satu diantaranya ialah Imam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syaafi’i, seorang ulama penyusun kitab Riyadhus Sholihin yang terkenal di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia, yang mana mayoritas penduduknya adalah muslim dan menganut madzhab fiqh Syafi’i.

Kisah yang terinspirasi dari buku “Ketawa Sehat Bareng Ahli Fiqih” yang ditulis oleh Khaeron Sirin ini semoga memberikan Anda pencerahan baru.

Cerita penuh hikmah ini berawal dari Masjid Jami’ (luas) bernama at-Taubah. Di Masjid tersebut sudah lazim menjadi tempat para penuntut ilmu agama (thullabul ‘ilmi) untuk mendapatkan faidah dari seorang syaikh (guru) yang ‘aalim (penuh dengan ilmu).

Seorang Syaikh yang tidak diceritakan namanya tersebut adalah seorang yang waro’ (menjaga dari maksiat kepada Alloh ta’ala), miskin, berhati mulia, dan ‘aalim. Sang Syaikh memiliki banyak murid, salah satunya adalah seorang pemuda yang datang dari negeri jauh. Diceritakan, pemuda itu tidak mengisi perutnya selama dua hari akibat kehabisan bekal dan tak memiliki sanak famili untuk dimintai pertolongan.

Disinilah anak buah iblis membisikan hal buruk kedalam akal pemuda itu. Syaithon membisikan pemuda itu untuk mencari bangkai tikus atau apapun yang bisa dimakan di atap masjid. Memakan bangkai dalam keadaan terdesak memang diperbolehkan, namun sebetulnya bisikan syaithon tersebut memiliki tujuan lain.

Pemuda itu tak menemukan apapun sesuatu untuk dimakan di atap Masjid. Jebakan syaithon berhasil, langkah selanjutnya adalah membisikan pemuda itu untuk menatap rumah disekitar Masjid. Karena lapar yang terus mendera, gelaplah akal & fikiran pemuda itu. Diputuskan lah merayapi atap salah satu rumah untuk mendapatkan makanan. Wal iyyadzu billah.

Berhasilah pemuda itu memasuki atap salah satu rumah yang berada didekat Masjid. Setelah mengendap beberapa saat, terciumlah aroma masakan yang begitu menggoda selera dan semakin menancapkan rasa lapar di benak dan perut pemuda itu. Tak menunda-nunda lagi, pemuda itu turun ke dapur untuk mencuri makanan.

Walhamdulillah, ketika berhasil mengigit terong yang ada didapur rumah tersebut, dirinya langsung tersentak oleh sebuah penyesalan. Teringat bahwa hal tersebut adalah sebuah perbuatan maksiat dan dosa, terucaplah “Astaghfirulloh” di lisan si pemuda. Diurungkanlah niat nya untuk mencuri makanan di rumah itu, dia kembalikan terong itu ketempat semula dimana ia mengambilnya. Lantas dirinya memutuskan untuk kembali kedalam masjid dalam keadaan lapar yang semakin menghujam perut nya.

Akibat rasa lapar yang dia alami, berbagai pelajaran yang dilontarkan oleh syaikh didalam Masjid tak mampu diserap oleh pemuda yang kelaparan itu. Selepas pengajian usai dan para thullab kembali kerumah mereka masing-masing, tinggalah pemuda itu bersama Syaikh nya.

Tampak dari kejauhan, seorang tua renta dan wanita bercadar yang dengan langkah nya memasuki Masjid Jami’ at-Taubah. Orang tua dan wanita itu kemudian berbincang dengan Syaikh yang ‘aalim tersebut.

Gagal Mencuri, Pemuda Ini Malah Dinikahi Janda Cantik Nan Kaya
Wanita Bercadar

Beberapa saat kemudian, Syaikh itu bertanya kepada pemuda yang kelaparan itu. “Wahai pemuda, apakah dirimu sudah menikah?”, si pemuda menjawab dengan wajah nya yang pucat, “Belum wahai Syaikh”. “Lantas apakah kamu ingin menikah sekarang?” Tanya sang Syaikh kepada pemuda itu. Namun, pemuda itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Syaikh ‘aalim itu mengulangi pertanyaan nya, “Apakah kamu siap untuk menikah?”. Pemuda itu menimpali; “Siap Syaikh, namun wallohi saya tak memiliki dinar atau dirham sedikitpun. Lantas, bagaimana caranya saya bisa menikah?”

Ternyata, wanita bercadar yang diantar oleh orang tua tadi memberikan kabar suaminya yang telah meninggal, dan dirinya ialah orang yang asing di kota tersebut. Wanita itu tak memiliki siapapun kecuali orang tua yang mengantarnya.

“Wanita ini tak memiliki siapapun kecuali paman nya ini yang sudah tidak muda lagi,” Kata Syaikh kepada pemuda itu.

“Wanita ini diwarisi usaha & tempat tinggal oleh suaminya yang telah meninggal. Ia menginginkan seorang pria yang mencintai dan menikahinya supaya tak diganggu dan tak menjanda lagi. Apakah dirimu bersedia untuk menikahinya?” Imbuh sang Syaikh.

Pemuda itu menganggukan kepalanya, sebagai tanda menyetujui kata sang Syaikh. Tak perlu berbasa-basi, Syaikh melanjutkan dialog ini dengan bertanya kepada wanita bercadar itu, “Apakah kau bersedia menerima pemuda ini menjadi suamimu?”, “Ya” Respon wanita itu.

Tak menunda apapun lagi, sang Syaikh mendatangkan dua orang saksi, dan menjadikan paman wanita bercadar itu sebagai wali untuk terlaksananya akad nikah, dan mensedekahkan hartanya untuk dijadikan mahar oleh pemuda itu.

Singkat cerita, sah lah pernikahan antara pemuda dan wanita bercadar itu. Usai menikah, sang pemuda pun diundang oleh istrinya untuk tinggal ke rumahnya. Masuklah pemuda itu kedalam rumah bersama istrinya. Didalam rumah itu, sang pemuda membuka cadar istrinya, tersingkap lah wajah wanita yang cantik jelita. Terkagumlah pemuda itu, sang istri membuka percakapan dengan berkata, “Apakah kau ingin makan?”, “Ya” Jawab pemuda itu.

Diajaklah pemuda itu ke dapur, terkejutlah pemuda itu bahwa dapur itu adalah dapur yang baru saja ia singgahi untuk dicuri makanan nya. Sang istri yang melihat terong yang pernah digigit oleh pemuda itu, merasa keheranan. Pemuda itu pun menangis, lantas bercerita bahwa dirinya tadi kelaparan, dan bercerita akan hal yang baru saja dilakukan nya.


Baca juga: Kepiting Halal atau Haram Menurut MUI


Selepas memahami alur cerita dari pemuda itu, wanita yang sekarang menjadi istri pemuda itu berkata, “Walhamdulillah, suamiku.. Kau tinggalkan terong yang haram dimakan itu & kau jaga kehormatan mu. Hal tersebut adalah buah dari sifat amanah, dan Alloh ta’ala hadiahi sifat itu dengan rumah bersama pemiliknya secara halal”.

Walhamdulillah.. Hikmah nya adalah;

BARANG SIAPA YANG MENINGGALKAN SESUATU YANG HARAM KARENA INGIN MENDAPATKAN RIDHO ALLOH TA’ALA, MAKA ALLOH AKAN MENGGANTI YANG HARAM TERSEBUT DENGAN YANG LEBIH BAIK.

Terinspirasi dari kisah yang tercatat di buku “Ketawa Sehat Bareng Ahli Fiqih” Tulisan Khaeron Sirin.

Bantu penulis dengan share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *