Hati Penyebab Lima Keburukan Bagi Bunda

Dikala si kecil disebut sebagai cobaan hidup dalam Al Quran (Al Anfal: 28 dan At Taghabun: 15), karenanya para bapak dan ibu patut berhati-hati. Layaknya sebuah cobaan, kerap kali kali menjerumuskan bila tidak lulus dari ujian tersebut. Potensi keburukan yang disebabkan oleh ujian tersebut wajib diketahui sehingga bisa dijaga sedini mungkin oleh para orang tua, supaya lulus dengan total dari ujian buah hati.

Keasyikan orangtua merasakan keindahan buah hati. Aktivitas ayah dan bunda mengurus anak. Waktu dan kemampuan yang tersita untuk memakmurkan buah hati dan sebagainya menjadi permasalahan yang berakhir buruk bagi kehidupan ayah dan ibu apabila tidak mengerti.

Ada 5 potensi keburukan dari keberadaan anak bagi orang tua yang tidak lulus dalam mengajar mereka menjadi anak yang bagus dan menyejukkan mata. Berikut ini ke 5 potensi buruk itu:

Menjauhkan dari dzikir kepada Allah
Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang bertindak demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs Al Munafiqun: 9)

Dzikir yaitu keharusan seorang hidup di dunia. Mengingat Allah dalam keadaan apa saja. Sedang dalam aktifitas apapun. Si dengan beragam sistem; lisan, hati dan bukti perbuatan yang layak dengan keridhoan Nya.

Dzikir merupakan bukti ayah dan ibu telah menjadi seorang hamba Allah yang bagus.

Sesungguhnya berpotensi menjadi penjauh dan penghalang ayah dan ibu dari dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga para ayah dan bunda sepatutnya menyeimbangkan dirinya antara menjaga amanah si kecil tersebut dengan kepentingan dirinya untuk menjadi hamba Allah yang baik.

Menyebabkan munculnya sifat pelit
Rasululloh bersabda:

إن الولد مبخلة مجبنة مجهلة محزنة

“Dan anak menjadi penyebab sifat pelit, penakut, bodoh dan sedih.” (HR. Hakim dan Thabrani, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ hadits no. 1990)

Pelit pada akhirnya terkait dengan harta. Meskipun yang merasa terbebani dengan amanah anak yang memerlukan biaya besar dalam mendidik mereka, berubah menjadi orang tua yang pelit. Tetapi pada harta kita tidak cuma ada hak si kecil. Tidak ada banyak orang lain yang mempunyai hak terhadap harta kita.

Ini artinya, para ayah dan ibu seharusnya tetap menjaga sifat gemar memberi sedangkan tugas membesarkan buah hati-buah hati memerlukan biaya yang tak kecil.

Penyebab munculnya sifat pengecut
Dalam hadits hal yang demikian di atas, Rasululloh menceritakan bahwa anak dapat menyebabkan tumbuhnya sifat pengecut dalam hati ayah dan bunda.

Kecintaan ayah dan bunda kepada buah hati. Rasa takut kehilangan mereka. Seluruh berharap berpisah jauh dari mereka. Tidak ini dapat membuat orang tua mendadak menjadi seorang penakut dalam menghadapi kehidupan ini. Rasa takut demikian itu dominan. Takut mati tiba-tiba hadir. Semua berani bertindak tegas dalam hidupnya dengan alasan eksistensi anak-buah hati.

Ibu, para orang tua sepatutnya konsisten mempunyai sifat berani dalam mengarungi dan menetapkan langkah dalam hidup ini. Ada ketika semestinya berbahagia bersama mereka. Ada dikala sepatutnya berpisah jauh dari mereka. Ada saat mereka bisa dipenuhi keperluannya. Ada dikala keputusan sepatutnya diambil dalam hidup ayah dan ibu walau berisiko kehidupan buah hati-anak mesti lebih prihatin.

Bersandar terhadap Allah yang Maha Pemberi dan keyakinan bahwa apa saja yang dititipkan terhadap Allah tidak akan pernah rusak dan sirna, akan membikin ayah dan bunda tidak kehilangan keberaniannya dalam mengarungi tugas hidup di dunia.

Penyebab kebodohan
Hadits Nabi di atas menceritakan bahwa anak juga bisa menyebabkan kebodohan bagi orang tuanya. Kebodohan berkaitan dengan ilmu.

Walaupun yang terlalu sibuk mengurusi buah hatinya, memandang mereka, kerap menciptakan buah hati sebagai alasan dari ketidakberilmuan dirinya. Atensi belajar memang jadi berkurang. Melainkan belajar juga mulai pupus, seiring kelelahan lahiriah yang mendera karena kegiatan bersama buah hati-si kecil dan untuk mereka.

Tak kebodohan tak boleh terjadi pada kehidupan bapak dan ibu. Apalagi ilmu yakni modal untuk mendidik mereka. Bagaimana diinginkan keberhasilan pengajaran anak, bila orang tuanya menghapus ilmu bagus mereka dengan tindakan dan lisan ayah dan bunda tanpa disadari. Semuanya bermula dari kosongnya kepala ayah dan bunda dari ilmu.

Sehingga, si kecil tak boleh menjadi alasan ayah dan bunda hilang peluang menuntut ilmu. Padahal patut konsisten memiliki waktu dan kekuatan untuk belajar dan terus belajar.

Penyebab duka
Di akhir hadits diceritakan bahwa buah hati dapat menyebabkan duka bagi ayah dan bunda. Banyak faktornya. Sebenarnya sakit misalnya, dapat jadi hanya sakit panas lazim. Tidak ayah dan bunda bisa betul-betul panik karenanya. Kepanikan itu menyebabkan terhentinya banyak kebaikan. Atau duka yang disebabkan oleh ulah buah hati di rumah atau di luar rumah.

Karenanya kerap kali bermunculan disebabkan oleh si kecil. Ibu ini peringatan dari Nabi, agar para bapak dan ibu menjaga kestabilan jiwanya. Maka merupakan hal yang manusiawi. Tak duka tidak boleh terus menerus meliputi segala kehidupan kita bersama anak-buah hati. Juga, kesedihan tidak boleh menghentikan potensi kebaikan dan amal shaleh para orang tua.

Ya jadikanlah si kecil-buah hati kami kebaikan bagi kami.

Amin…



Bantu penulis dengan share: