Hikmah di Balik Perselisihan Yang Melanda Umat

Konflik yang akan kita bahas bukan konflik internal di kalangan kaum muslimin. Tapi perselisihan akibat keganasan musuh-musuh Islam di belahan bumi manapun. Betapa nyawa umat Islam tak punya nilai pada hari ini. Umat Islam menjadi bulan-bulanan kaum kuffar dan musyrikin. Agama dan keyakinan lain leluasa membunuh, membantai dan mengusir umat Islam dari daerah tinggalnya.

Tak jauh dari mata kita hari ini yakni Muslimin Suriah, Palestina dan Rohingya. Belum lagi umat Islam yang tidak terpantau seperti Kashmir, Uighur, Pattani, Yaman dan Irak. Mereka ialah saudara-saudara kita yang Allah ikat dengan tali keimanan dan syahadatain.

Satu model, enam tahun perselisihan Suriah membuat jutaan orang mengungsi. Korban jiwa hampir setengah juta. Mereka gugur di tangan rezim Basyar Asad dan sekutunya; Syiah Iran, Irak dan Lebanon. Belum lagi intervensi Rusia yang sudah melenyapkan ribuan nyawa umat Islam, terutamanya selama serangan Aleppo. Dan Rusia mengakui telah mengaplikasikan Suriah sebagai ladang uji coba senjata baru. Lebih dari 200 senjata telah diuji coba oleh mereka dengan kelinci percobaannya merupakan nyawa umat Islam.

Belum lagi pemakaian senjata kimia oleh rezim Basyar Asad yang diimpor dari Korea Utara. Malah dilaporkan kaprah-kira telah terjadi 161 serangan kimia yang memakan korban puluhan ribu nyawa umat Islam. Serangan ini menjadi salah satu perang paling brutal yang terjadi di abad 21.

Hikmah Dibalik Perselisihan
Konflik di atas menampilkan betapa bencinya orang kafir dan musyrik terhadap Islam dan penganutnya. Tak cuma di Suriah, namun juga di Rohingya, Palestina dan belahan bumi manapun. Ikhtisarnya, konflik di manapun sesungguhnya mengandung hikmah dan ibrah yang betul-betul berharga bagi kita.

Pertama, zalim dan kejam merupakan sifat orang-orang kafir.
Baik dalam wujud mengusir dari kampung halaman, menghina, memerangi, menangkap (memenjarakan), menyiksa atau pun membunuh dengan keji dan aniaya. Genosida sering dialami oleh umat Islam cuma lantaran iman mereka terhadap Allah Ta’ala, lebih-lebih atas umat Islam yang minoritas.

Kisah ashabul uhdud adalah sejarah yang takkan terlupakan terukir dalam Al-Qur’an Surah al-Buruj yang terjadi di kawasan Najran. Diperkirakan 20.000 orang beriman mengalami genosida besar-besaran. Mayoritas dibakar dalam parit berapi yang menyala-nyala, dan sebagiannya lagi dibunuh dan dimutilasi.

Jatuhnya Granada ke tangan kafir salibis sudah menjadi sejarah kekejaman Nashrani di Andalusia. Ketika pasutri Raja Ferdinand dari Aragon dan Putri Isabella dari Castile sudah merajut cita-cita untuk menumbangkan Granada dan menghapus jejak-jejak Islam. Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dikerjakan dengan kejam tanpa mengetahui perikemanusiaan.

Tidak cuma pasukan Islam yang dibantai, juga penduduk sipil, wanita, buah hati-anak kecil, orang-orang tua, semuanya dihabisi dengan sadis. Penduduk Muslim yang masih hidup terus dikejar oleh tentara-tentara Nashrani. Rumah-rumah dibakar bersama orang-orang yang masih ngumpet di dalamnya.

Dan selebihnya dijanjikan diizinkan pergi tapi dikhianati dan dibantai tanpa perasaan belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana yang dibalas dengan kebuasan tentara Salib yang terus membunuh warga sipil yang sudah tak berdaya. Ribuan umat Islam terbunuh dan yang lainnya bereksodus menyeberang lautan menuju Afrika Utara. Kejadian besar ini hasilnya mereka rayakan menjadi April Mop yang jatuh pada tanggal 1 April 1487 masehi, yang bertepatan dengan tahun 892 hijriyah.

Sistem-metode tersebut terbukti sudah Allah abadikan dalam Al-Qur’an. Antara lain kisah Nabi Syu’tercela yang diancam oleh kaumnya, “Sebetulnya kami akan mengusir kamu aduhai Syu’terhina dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kau kembali terhadap agama kami?” (Qs. Al-A’raaf: 88)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Jika mereka menang dan bertemu kau, niscaya mereka berperilaku sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu secara keji; dan mereka ingin agar kau (kembali) kafir.” (Qs. Al-Mumtahanah: 2)

Imam al-Qurthubi berkata, “Bila kalian dan mereka berhadapan, mereka akan leluasa mengaplikasikan tangan mereka untuk menyiksa dan membunuh. Mulut mereka memaki sembari berharap agar kau kafir kepada Muhammad. Karenanya dari itu janganlah memberikan kebaikan kepada mereka, sebab sebetulnya mereka tak akan memberikan kebaikan untuk kalian.” (Lihat, al-Jâmi’ li-Ahkâm Al-Qur’an, 18/54-55).
Kedua, ketidakadilan dalam memberikan cap teroris.
Teroris yakni alat paling ampuh yang diaplikasikan untuk mengelabui masyarakat yang tak mengerti dengan makna teroris hakekatnya. Menurut mereka, Islam itu semestinya lembut dan sabar dalam mendapatkan perlakuan kasar dan tidak boleh memberikan perlawanan. Apabila keluar vonis kafir yang resmi, itu teroris. Bila keluar vonis bid’ah yang legal, itu teroris. Jika Islam melawan, itu teroris. Para pejuangnya yaitu teroris, radikal, ekstrimis dan barbar. Kalimat-kalimat yang tidak cuma terlontar dari mulut orang-orang kafir, namun juga dari orang-orang yang mengaku mengerti Islam. Teroris yakni alat yang paling disukai musuh untuk dalih menyerang suatu wilayah Islam.

Akan melainkan ketika Amerika membantai umat Islam di Afghanistan dan Irak. Tak ada media yang mengukurnya teroris. Saat Basyar Asad dan aliansinya Iran dan Lebanon membunuh setengah juta umat Islam di Suriah, tak ada satu negara bahkan yang mengatakannya teroris. Myanmar yang telah membantai, membakar dan memutilasi umat Islam Rohingya tak ada satupun yang menganggapnya teroris. Ketika agresor Rusia yang bertingkah terorisme di Afghanistan, Chechnya dan Suriah, tak pernah ada yang bilang teroris. Dan ketika Yahudi menyerang umat Islam di Palestina, semuanya membisu dan tak pernah berkata teroris.

Seakan kata teroris hanya disematkan kepada para pejuang Islam yang membela agama, harga diri dan zonanya. Dan kamus teroris cuma milik orang-orang kafir dan musyrik. Makanya ketika para mujahidin di Suriah melawan rezim Basyar Asad, sosial media melansir sebagai teroris dan pemberontak. Dan saat umat Islam Rohingya mulai melawan tentara Myanmar, barulah keluar kata teroris dari mulut-mulut mereka. Akan melainkan mereka dibantai, dunia membisu seribu bahasa. Dan dikala ada orang Rusia dibunuh, dunia lantas mengutuk dan mengatakan itu perbuatan teroris. Itu seluruh terjadi, sebab “al-kufru millatun wahidah”, kekafiran ialah satu agama.

Malah untuk meredam perlawanan umat, dibuatlah pamflet yang berisikan ciri-ciri teroris. Dengan contoh, “Ciri-ciri teroris kini yakni berniat dirikan khilafah, mengujar kebencian etnis, agama, dan aliran, serta gemar mengkafir-kafirkan orang, anti PBB dan Amerika, dan naik darah seandainya para mujahid dan pejuang Islam disebut teroris.”

Motto-motto mereka sungguh-sungguh persis dengan firman Allah yang artinya, “Mereka berkehendak memadamkan sinar Allah dengan mulut mereka, dan Allah tak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.” (Qs. At-Tauabah: 32)

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata,

“Orang-orang kafir semenjak dahulu memerangi Islam, dan menyebutnya dengan sebutan yang paling jelek supaya manusia lari dari Islam. Salah satu formatnya ialah menyebut Islam itu teroris dan biadab. Dan orang-orang kafir itu yang lupa, hakekatnya yang teroris, biadab, membunuh rakyat, dan berperilaku sewenang-wenang atas manusia tanpa dalih yang benar, dan semua sifat yang tercela hanya ada pada ajaran kafir, dan termasuk sifat orang-orang kafir.” (Lihat, al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan, 1/416).
Ketiga, menguji keimanan seseorang.
Dalam perselisihan, umat terbelah menjadi dua; wali-wali Allah dan wali-wali syetan. Satu pasukan bertempur di jalan Allah, dan satu pasukan lagi berperang di jalan syetan. Inilah hikmah terutamanya dari timbulnya sebuah konflik. Membersihkan barisan umat dari orang-orang munafik dan yang tidak peduli dengan urusan umat yang dizalimi kaum kuffar dan musyrikin. Bila dia memberikan dukungan terhadap pasukan yang pertama, karenanya dialah mukmin sejati. Dan bila berat dalam memberikan dukungan, karenanya diragukan keimanannya bahkan masuk dalam lingkaran munafik. Dan apabila dukungannya terhadap pasukan yang kedua, maka tidak ada iman dalam hatinya. Dan jikalau tak ada peduli, karenanya dia bukan komponen dari tubuh umat Islam.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Kenapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah bagus laki-laki, wanita-wanita maupun buah hati-si kecil yang semuanya berdoa, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya. Dan kasihlah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu. Karena sebetulnya tipu kekuatan syetan itu yaitu lemah.” (Qs. An-Nisa’: 75-76)

Dalam ayat lainnya Allah berkata seputar orang-orang munafik, “Yakni orang-orang yang menunggu-nunggu (momen) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang beriman). Maka jikalau terjadi padamu kemenangan dari Allah mereka berkata, “Bukankah kami bersama kalian?” Dan kalau orang-orang kafir memperoleh keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, “Bukankah kami ikut serta memenangkan kalian, dan membela kalian dari orang-orang beriman?” (Qs. An-Nisa’: 141)

Resumenya, perselisihan yang melanda umat Islam yakni penyaring bagi orang beriman. Banyak hikmah dan ibrah yang bisa kita petik. Menghasilkan kita lebih peduli kepada nasib umat Islam di bumi manapun. Kuat lemahnya iman terkait dengan kepedulian kita kepada penderitaan orang-orang beriman. Kuat lemahnya al-wala’ wal-bara’ bisa diperhatikan kepada siapakah dia bergabung dalam perselisihan yang melanda umat Islam. Karena barangsiapa yang tidak perhatian kepada urusan umat Islam, dia bukan komponen dari umat ini.”



Bantu penulis dengan share: