Hukum Melantunkan Al-Qur’an ketika Berkhutbah dan Berceramah

Hukum Melantunkan Al-Qur’an dikala Berkhutbah dan Berceramah

Tak diragukan lagi bahwa membaca dan memperdengarkan Al-Qur’an ialah kenikmatan dan sumber ketenangan serta menambah keimanan.

Allah berfirman,

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺫُﻛِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺟِﻠَﺖْ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺗُﻠِﻴَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁَﻳَﺎﺗُﻪُ ﺯَﺍﺩَﺗْﻬُﻢْ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ

“Orang-orang yang beriman itu merupakan orang-orang yang bila diceritakan nama Allah karenanya bergetarlah hati mereka. Sekiranya dibacakan terhadap mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka cuma bertawakal kepada Rabb mereka” (QS. Al-Anfal: 2).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar merasakan dan senang memperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Observasi hadits berikut,

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata:

ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ‏« ﺍﻗْﺮَﺃْ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ‏» ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ‍ ﺃَﻗْﺮَﺃُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ؟ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺃُﻧْﺰِﻝَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺷْﺘَﻬِﻲ ﺃَﻥْ ﺃَﺳْﻤَﻌَﻪُ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِﻱ ‏» ، ﻓَﻘَﺮَﺃْﺕُ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐْﺖُ : ﻓَﻜَﻴْﻒَ ﺇِﺫَﺍ ﺟِﺌْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺑِﺸَﻬِﻴﺪٍ ﻭَﺟِﺌْﻨَﺎ ﺑِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷَﻬِﻴﺪًﺍ ‏[ ﺳﻮﺭﺓ : ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ، ﺁﻳﺔ ﺭﻗﻢ : 41 ‏] ﺭَﻓَﻌْﺖُ ﺭَﺃْﺳِﻲ، ﺃَﻭْ ﻏَﻤَﺰَﻧِﻲ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﻨْﺒِﻲ، ﻓَﺮَﻓَﻌْﺖُ ﺭَﺃْﺳِﻲ ﻓَﺮَﺃَﻳْﺖُ ﺩُﻣُﻮﻋَﻪُ ﺗَﺴِﻴﻞُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,

“Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku.”

Ibnu Mas’ud berkata: Aku katakan, “Wahai Rasulullah! Apakah saya akan membacakannya kepadamu sementara ia diwariskan kepadamu?”

Beliau menjawab, “Saya berbahagia mendengarnya dari orang selain diriku.”

Maka saya pun membacakan surat An-Nisa’, ketika sampai pada ayat [yang artinya], “Bagaimanakah apabila [pada hari akhir zaman nanti] Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka” (QS. an-Nisa’: 41).

Aku angkat kepalaku atau ada seseorang dari samping yang memegangku sehingga aku bahkan mengangkat kepalaku, ternyata aku memperhatikan air mata beliau mengalir” (HR. Bukhari no. 4582 dan Muslim no. 800).Regulasi Melantunkan Al-Qur’an ketika Berkhutbah dan Berpidato.

Tata Melantunkan Al-Qur’an dikala Berkhutbah dan Berceramah

Timbul pertanyaan bagaimana dikala pidato atau berkhutbah, apakah boleh melantunkan Al-Qur’an sebagaimana dikala sedang membaca Al-Qur’an atau sedang mengaji? Amati fatwa tanya jawab berikut:

Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan ditanya:

مـا حكـم ترتيـل الـقرآن فـي الخطـب والمحاضـرات

“Apa peraturan mentartil (melantunkan) bacaan Al-Qur’an dalam khutbah dan pidato-pidato?”

❪✵❫ الجَـــــوَابُ :

هـذا كـثر السـؤال عـنه، لأن بعـض الإخـوان يـرتل الآيـة فـي الخطـبة أو فـي المـوعظة وهـذا شـيء غـير مـعروف عـن السـلف لأن هـناك فـرقا بـين قـراءة التـلاوة وقـراءة الإستـشهاد والإسـتدلال

قـراءة التـلاوة تـرتل بأحـكام الـتلاوة والـترتيل،

أمـا الـقراءة لـلاستشهاد فقـط فـلا تـرتل الآيـة ، وإنمـا تقـرأ قـراءة سليمـة مـن اللـحن

Regulasi Melantunkan Al-Qur’an dikala Berkhutbah dan Berpidato.

Tata Melantunkan Al-Qur’an dikala Berkhutbah dan Berceramah

Jawab:

“Pertanyaan ini acap kali ditanyakan karena sebagian saudara kita melantunkan bacaan Al-Qur’an dalam khutbah atau dalam memberikan pidato tuntunan. Hal ini bukanlah suatu perkata yang diketahui oleh ulama salaf sebab terdapat perbedaan antara membaca Al-Qur’an saat melantunkannya dan ketika membaca untuk berdalil dan menguatkan dalil (membaca kutipan ayat dan tidak melantunkan). Bacaan saat melantunkan Al-Qur’an semestinya layak dengan aturan tartil dan peraturan membaca Al-Qur’an (tajwid). Adapun membaca untuk berdalil saja, karenanya tidak perlu ditartilkan (dilantunkan), cukup dibaca supaya tidak terjatuh dalam lahn (kesalahan membaca Al-Qur’an yang dapat merubah artinya)” (Ijabatul Muhimmah hal. 278-279).

Ikhtisar: Melantunkan Al-Qur’an ketika berkhutbah dan berceramah tidak dikenal (ghairu ma’ruf) di masa salaf, meninggalkannya lebih baik dan lebih berhati-hati.



Bantu penulis dengan share: