Ilmu Agama Tanpa Sopan Mulia Yaitu Sia-Sia

Ilmu Agama Tanpa Akhlak Mulia Ialah Sia-Sia

Observasi Krama dan Akhlakmu Aduhai Penuntut Ilmu
Sebuah pengarahan yang benar-benar bagus bagi kaum muslimin terutama bagi para penuntut ilmu agama. Ilmu agama yang mulia ini hendaknya senantiasa digandengkan dengan adab yang mulia. Terlebih para da‘i yang akan menyeru kepada kebaikan dan menjadi sorotan oleh masyarakat akan kegiatan keseharian dan muamalahnya. Nasihat tersebut dari seorang ulama yaitu syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,

طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه
“Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faidah menuntut ilmunya.”[1]
“Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.[2]

Memang demikian figur dari para ulama sejak dulu, mereka benar-benar memperhatikan akhlak dan adab. Jangan sampai justru dakwah rusak karena pelaku dakwah itu sendiri yang kurang akhlak dan budi pekertinya. Ulama dulu benar-benar mempelajari budi pekerti dan moral pun melebihi perhatian terhadap ilmu.Ilmu Agama Tanpa Pekerti Mulia Yaitu Sia-Sia.

Ilmu Agama Tanpa Etika Mulia Ialah Sia-Sia

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,

طلبت الأدب ثلاثين سنة وطلبت العلم عشرين سنة كانوا يطلبون الأدب ثم العلم
“Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama dua puluh tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.[2]

Hendaknya kaum muslimin terutama para penuntut ilmu dan dai benar-benar melihat hal ini. Jikalau tiap-tiap orang atau sebuah organisasi, kita permisalkan. Mereka punya target dan tujuan tertentu, karenanya tujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus ialah untuk memperbaiki dan menyempurnakan etika manusia. Kita berusaha untuk menciptakan hal ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ
Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [3]

Berhiaslah dengan Sopan Mulia
Beliau memerintahkan kita agar bergaul dan bermuamalah dengan manusia berhiaskan moral yang mulia.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia.”[4]

Beliau adalah suri contoh bagi kaum muslimin dan beliaupun sudah mencontohkan terhadap kita adab beliau yang amat mulia dalam berbagai kisah sirah beliau. Allah memuji etika beliau dalam Al-Quran.Ilmu Agama Tanpa Krama Mulia Ialah Sia-Sia.

Ilmu Agama Tanpa Moral Mulia Merupakan Sia-Sia

Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (Al-Qalam: 4).

Adab juga kebanggaan dari istri beliau, perlu diketahui bahwa komentar dan testimoni istri pada suami merupakan salah satu format perwujudan adab sebetulnya seseorang. ‘A`isyah berkata mengenai budi pekerti Nabi Shallallahu ‘alaih wa sallam,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Akhlak beliau adalah Al-Quran.”[5]

Seperti Apa Moral Mulia Itu?
Definisinya adab mulia cukup sederhanya, sebagaimana ulama menerangkan,

بَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الْأَذَى وَاحْتِمَالُ الْأَذَى
Akhlak mulia adalah

[1] berbuat bagus kepada orang lain
[2] menghindari sesuatu yang menyakitinya
[3] dan menahan diri dikala disakiti”[6]
Mari kita wujudkan tata krama yang mulia, mempelajari bagaimana adab mulia dan dalam Islam dan memakainya dalam kehidupan sehari-hari. Balasan tata krama mulia betul-betul besar yaitu masuk surga dan yakni karena terbanyak orang masuk surga

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”[7]



Bantu penulis dengan share: