Ini Hukum Taaruf Dalam Islam

Ini Tertib Taaruf Dalam Islam

Nadzar (mengamati) calon istri atau calon suami, disyariatkan dalam islam. Supaya tak ada istilah menyesal di belakang, menentukan bahwa mereka menikah sebab saling mencintai.

Diceritakan oleh al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau hendak melamar seorang wanita. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi anjuran kepadanya,

انْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Lihat dahulu calon istrimu, sebab itu akan lebih bisa membikin kalian saling mencintai. (Ahmad 18154, Turmudzi 1110 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dalam hadis lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyebutkan, bahwa ada seseorang yang memberi tahu terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dirinya sudah menikah dengan wanita anshar. Nabipun bertanya,

أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا

“Apakah kamu sudah melihatnya?”

Jawab orang ini, “Belum.”

 

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi masukan,

فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِى أَعْيُنِ الأَنْصَارِ شَيْئًا

Lihatlah calon istrimu, sebab di komponen mata orang anshar ada sesuatu… (HR. Muslim 3550)

Nadzar itu Ada 2:

[1] Nadzar legal

Nadzar yang pertemuannya disepakati kedua belah pihak. Sehingga keduanya persiapan. Umpamanya nadzar di rumah orang tua si wanita.

[2] Nadzar tidak resmi

Nadzar yang dijalankan secara diam-diam oleh pihak lelaki, sementara pihak wanita tak tahu.
Teman Jabir radhiyallahu ‘anhu menyebutkan,Ini Undang-undang Taaruf Dalam Islam.

Ini Tertib Taaruf Dalam Islam

فخطبت جارية فكنت أتخبأ لها ، حتى رأيت منها ما دعاني إلى نكاحها وتزوجتها

Saat saya melamar seorang gadis, aku ngumpet-sembunyi untuk menadzarnya. Hingga aku dapat melihatnyaa, yang membuatku beratensi untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya. (HR. Abu Daud 2084 dan dihasankan al-Albani)

Dalam riwayat lain, Jabir menyebutkan,

فَخَطَبْتُ جَارِيَةً مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَكُنْتُ أَتَخَبَّأُ لَهَا تَحْتَ الْكَرَبِ حَتَّى رَأَيْتُ مِنْهَا بَعْضَ مَا دَعَانِى إِلَى نِكَاحِهَا فَتَزَوَّجْتُهَا

Aku melamar seorang gadis dari bani Salimah. Aku sembunyi-mengumpet untuk mengintipnya di balik pelepah kurma, hingga aku dapat memandang bagian anggota badannya yang membuatku berminat untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya. (HR. Ahmad 14960).

Di posisi nadzar tidak resmi, lelaki boleh mengamati komponen yang biasanya nampak dikala wanita di rumahnya, seperti kepala, leher, atau kaki.

Anggota Badan Yang Boleh Dinampakkan ketika Nadzar

Dalam Ensiklopedi Fiqh disebutkan perbedaan ulama mengenai batasan anggota tubuh yang boleh dinampakkan,Ini Peraturan Taaruf Dalam Islam.

Ini Peraturan Taaruf Dalam Islam

Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan beberapa Hambali sepakat bahwa bagian anggota badan yang boleh dinadzar ketika lelaki melamar ialah wajah dan telapak tangan (termasuk punggungnya), hingga ke pergelangan. Wajah untuk mengevaluasi kecantikan, sementara telapat tangan untuk mengevaluasi kesuburan badan.
Setelah Turmudzi membawakan hadis di atas, beliau mengatakan,

وقد ذهب بعض أهل العلم إلى هذا الحديث وقالوا لا بأس أن ينظر إليها ما لم ير منها محرما. وهو قول أحمد وإسحاق

Beberapa ulama berpendapat sesuai hadis ini. Mereka mengatakan, tak keadaan sulit lelaki melihat calon istrinya, selama tidak mengamati yang haram darinya. Dan ini anggapan Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah. (Jami’ at-Turmudzi, 4/370)

Sementara Hanafiyah dalam beberapa riwayat memperkenankan melihat kaki, karena kaki dalam madzhab hanafiyah bukan aurat.
Hambali membiarkan mengamati komponen yang biasa menonjol, seperti kepala (tanpa jilbab), leher, atau kaki.
(al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 19/199).

Dan simpulan yang lebih pas, bahwa anggapan jumhur digunakan untuk nadzar legal. Saat lelaki yang melamar berkeinginan berjumpa dengan wanita yang dilamar, ia bisa datang ke rumahnya dan mengamati wajah dan telapak tangan.

Sementara anggota tubuh lainnya, hanya boleh terlihat ketika nadzar dilaksanakan secara tidak resmi.



Bantu penulis dengan share: