Inilah Hal-hal yang Mengharuskan Seorang Muslim Mandi Junub

Kenapa kita diharuskan mandi junub (besar)?. Ada sejumlah hal yang mewajibkan tiap-tiap mukmin untuk mengerjakan mandi besar, diantaranya karena sudah menjalankan kekerabatan sebadan (memasukkan genitalia -hasyafah- ke dalam farji), keluar mani (ejakulasi), haid, dan nifas.

Dalil yang mewajibkan mandi besar sebab melaksanakan kekerabatan sebadan (jimak) yakni hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra., bahwasanya Nabi saw. telah bersabda : “Bilamana dua yang dikhitan bersua, karenanya mandi besar (tata tertibnya) semestinya”

Bertemunya dua yang dikhitan terjadi dengan memasukkan hasyafah ke dalam farji. Hasyafah yaitu bagian kelamin yang dikhitan. Hasyafah laki-laki adalah bagian yang dikhitan, yaitu yang dibuang kulit penutupnya. Sedang komponen yang dikhitan pada perempuan merupakan kulit berbentuk seperti jewer ayam jantan yang berlokasi di bagian atas organ intim wanita. Bilamana hasyafah tersebut masuk ke dalam farji, yaitu antara bagian yang dikhitan pada laki-laki dan perempuan saling bertemu dan bersentuhan, maka yang bersangkutan harus mandi besar sekalipun dia memasukkan hasyafahnya ke dalam farji binatang, baik hidup ataupun mati si empunya farji itu, baik yang bersangkutan hingga keluar mani atau tak. Sebetulnya ini sebagaimana dikemukakan dalamn sebuah hadits, bahwasanya Nabi saw. sudah bersabda :

“Bilamana seorang duduk diantara empat pangkalnya (paha) dan dua yang dikhitan merekat, karenanya wajiblah mandi besar sekalipun ia tidak sampai keluar mani”.

Dalil yang mengharuskan mandi besar karena keluar mani adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri ra. Sebetulnya Nabi saw. telah bersabda : “Sebenarnya air (mani) itu dari air”

Mandi besar karena keluar air mani ini diwajibkan baik keluarnya dalam keadaan yang bersangkutan sedang dalam kondisi (jaga) maupun sedang dalam kondisi tidur. Ummu Salamah ra. Sudah meriwayatkan sebuah hadits:

“Telah datang Ummu Sulain -istri Abu Thalhah-terhadap Rasulullah saw. lalu bertanya: Ya Rasulullah, sebetulnya Allah tak malu dari yang bagus; apakah perempuan mesti madi besar sekiranya dia mimpi bersetubuh? Beliau menjawab: Ya, bila ia memandang air (mani)”.

Padahal sesorang mimpi bersetubuh tapi dia tak sampai keluar air mani atau dia ragu; apakah ia sampai keluar air mani karenanya, karenanya kepadanya tak sepatutnya mandi besar. Sesungguhnya jika ia mendapatkan air mani sekalipun ia tidak ingat bahwa dirinya telah mimpi bersetubuh, karenanya kepadanya wajib mandi besar. Sebenarnya ini sebagimana diriwayatkan oleh Aisyah ra.:

“Sesungguhnya Nabi saw. pernah ditanya tentang seorang laki-laki menerima (dirinya) kebasahan, naum dia tak ingat; apakah dirinya mimpiu bersetubuh. Bersabdalah beliau: Keharusan patut mandi besar. Dan perihal seorang laki-laki yang menerima bahwa dirinya mimpi bersetubuh namun dia tak mendapatkan dirinya kebasahan, beliau bersabda: Meskipun wajib madi besar kepadanya”

Ketentuan mandi besar ini semata-mata hanya sebab keluar air mani saja, sehingga oleh maka tak harus mandi besar sebab keluar madzi atau wadi. Madzi yaitu air (cairan) yang keluar sebab rangsangan seksual. Hakekatnya wadi ialah cairan yang keluar saat kencing (buang air kecil). Jikalau ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ali karramallahu wajhahu, bahwasanya ia berkata:

“Apabila merupakan seorang yang gampang keluar air madzi, sehingga di musim dingin pun aku tetap mandi besar hingga punggungku sakit karenanya. Kemudian saya mengadukan hal itu kepada Nabi saw. lalu beliau berkata: Jangan kamu lakukan! Bilamana engkau menerima air madzi, karenanya cucilah dzakarmu dan berwudhulah untuk shalat”

Dalil yang mengharuskan mandi besar karena datang bulan (haid) adalah :

Firman Allah Ta’ala : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: haid itu ialah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kalian dekati mereka, sebelum mereka suci. Meskipun mereka sudah suci, maka campurilah mereka itu” (QS. Al Baqarah: 222)

Sabda Rasulullah saw. yang diberi tahu kepada Fatimah binti Abu Hubaisy: “Padahal datang haid, maka tinggalkanlah sholat, dan kalau sudah berlalu, karenanya mandi besar dan shalatlah”

Sebenarnya dalil yang mengharuskan mandi besar karena nifas ialah disebabkan darah nifas merupakan darah haid yang tertunda keluarnya. Maka juga halnya wiladah sama dengan nifas dalam keharusan mandi besar, sekalipun tak sampai mengeluarkan darah, karena dikala bersalin tentu keluar cairan walau hanya sedikit. Oleh karena itu, bersalin sama seperti darah nifas.

Orang junub diharamkan shalat, thawaf, dan menyentuh mushhaf (Al Qur’an). Itu jangankan karena junub, dikarenakan hadats kecil saja hal itu diharamkan. Itu diharamkannya hal tersebut bagi orang junub (berhadats besar) sikap yang lebih diutamakan. Karenanya juga kepadanya diharamkan membaca Al Qur’an, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra., sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Orang junub dan yang sedang haid tak boleh sedikitpun membaca Al-Qur’an”.

Karenanya juga kepada orang junub ini diharamkan berdiri di mesjid, tetapi tak mengapa kalau cuma sekedar berlalu.

Firman Allah SWT.: “…, (jangan pula hampiri masjid) sedang kalian dalam situasi junub, terkecuali sekadar berlalu saja” (QS. an-Nisa\’: 43).

Metode Mandi Junub

Bilamana seseorang bermaksud hendak mandi besar dari junub, maka pertama-tama ia menyebut nama Allah (membaca basmalah) dan berikutnya berturut-ikut dia; niat bersuci dari hadats besar; mencuci kedua telapak tangannya tiga kali sebelum dimasukkan ke dalam tempat air; mencuci bagian yang terkena cairan; berwudlu seperti wudlu untuk sholat; memasukkan segala jari jemari ke dalam air; mengambil air dengannya dan menyiramkannya pada kepala sambil menjarangkan (menggaruk) pangkal rambut dan jenggot; mengambil air dengan kedua telapak tangan dan menyiramkam air ke seluruh tubuh; menggosok semua bagian badan yang dapat dijangkau oleh tangan dan berpindah daerah ; mencuci kedua kaki. Segala cara mandi besar ini menurut gambaran yang dikemukakan oleh Aisyah dan Maimunah r.a. saat keduanya mensifati mandi besar yang dijalankan oleh Rasulullah saw.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. dikemukakan: “Sebenarnya Nabi saw. bilamana beliau bersuci dari hadats besar (janabah), pertama mencuci kedua tangannya, kemudian berwudlu seperti wudlu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jemarinya ke dalam air lalu menjarangkan pangkal rambut kepala dengannya, kemudian menuangkan air pada kepalanya tiga kali yang diambil dengan merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian menuangkan air pada seluruh kulitnya”.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Maimunah r.a., dia berkata:

“Rasulullah saw. berwudlu seperti wudlu untuk sholat tanpa mencuci kedua kakinya dan beliau mencuci farjinya serta mencuci bagian yang terkena cairan, kemudian beliau menyiramkan air pada badannya, kemudian menuju pada kedua kakinya lalu mencucinya. Ini yakni bersuci janabah”.

termasuk sebagai fardlu dalam bersuci dari hadats besar yakni: Niat dan menyiram seluruh badan dengan air bersih. Sedang di luar kedua poin ini yaitu sunat. Cara bersuci dari hadats besar bagi laki-laki dan perempuan yakni sama seperti ilustrasi di atas. Dan bersuci dari hadats besar boleh dilaksanakan dari air dalam bak, di bawah air terjun, dari air ledeng, boleh dikerjakan di laut, di sungai, di sumur, dan sebagainya. itu boleh dipilih selama memenuhi fardlu mandi besar, tetapi yang paling afdhal ialah yang bisa meliputi sunat-sunat mandi besar.



Bantu penulis dengan share: