Jangan Bosan Berdakwah, Bisa Jadi Hidayah Via Sedikit Pengarahan Kita

Allah Ta\’ala, berfirman:

ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ ۥ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

\”…Barang siapa dikasih petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapatkan pedoman; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan menerima seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.\” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 17)

Dalam Perang Khaibar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan bendera perang terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, kemudian bersabda:

فَوَ اللهِ ، لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, apabila Allah memberikan hidayah terhadap seorang laki-laki dengan perantaraan usahamu, karenanya hal itu lebih bagus daripada engkau memiliki unta-unta merah.” (Muttafaq ‘Alaih).

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam menerangkan hadits ini, “yang dimaksud dengan ‘humrun ni’am’ yaitu ‘Unta merah’, dan dia yakni harta paling berharga bagi orang arab. Dan mereka seringkali menjadikannya sebagai perumpamaan bagi sesuatu yang sungguh-sungguh berharga dan tidak ada yang lebih berharga darinya. Dan telah kami jelaskan sebelumnya bahwa penyamaan antara balasan bagus di akhirat dengan sesuatu yang berharga didunia hanyalah sebagai bentuk pendekatan terhadap benak kita supaya lebih mudah kita pahami. Walaupun hakekat yang sesungguhnya, karenanya setitik kenikmatan di akhirat yang abadi lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata dalam menjelaskan hadits ini, “jikalau orang alim bisa mendapatkan pahala yang lebih baik dari onta merah bila dia menjadi sebab seseorang mendapat hidayah, karenanya bagaimana dengan orang yang tiap-tiap harinya menjadi sebab hidayahnya banyak orang.”

Datangnya hidayah sesekali unik, di luar akal kita. Dia tidak berproses secara logis, pun terkesan instan. Dia bagaikan lailatul qadar yang menurut Buya Hamka, waktunya sebentar tetapi mampu merubah jalan hidup.

Melainkan, sekiranya dirunut datangnya hidayah hakekatnya dimulai pengerjaan spiritual (mujahadah) yang panjang. Hidayah ibarat seorang siswa yang mendapatkan penghargaan akademik karena keterampilannya. Upacara penghargaan memang berjalan cuma 10 menit. Namun, proses menempuh puncak prestasi hal yang demikian butuh kerja keras untuk waktu yang lama.

Begitu juga hidayah. Untuk mendapatkannya, orang perlu berproses khususnya dulu. Pengerjaan itulah yang akan mendatangkan pahala buatnya, layak dengan tingkat kepayahannya

pula andaikan kita diberikan kesempatan dan kans berdakwah, Apa salahnya kita memberi pengarahan sahabat kita sendiri saat sahabat kita sedang terjerumus kedalam keterpurukan. 1000 fatwa ulama tidak mempan memberi arahan seseorang, tetapi dia dapat tersentuh tatkala mendengar nasehat dari sahabat dekatnya. Jadi jangan menyerah untuk mendakwahi sahabat dan kerabat kalian, bisa jadi via lisanmu dan tulisanmu yang sederhana tampak remeh hidayah itu datang.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدىً كَانَ لَهُ مِنَ الَأجْرِ مِثلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئاً

“Barangsiapa menyeru kepada tanda, karenanya baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mencontohnya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikit malahan.” (HR. Muslim).

Wallahu a\’lam



Bantu penulis dengan share: