Jenis – Jenis Puasa Sunnah dalam Agama Islam

Variasi – Ragam Puasa Sunnah dalam Agama Islam

Sekiranya ditinjau dari regulasinya, puasa dalam ajaran islam diklasifikasikan menjadi 4 tipe, merupakan puasa seharusnya, puasa sunnah, puasa makruh, serta puasa haram. Nah kali ini kita akan membahas tentang puasa sunnah, lebih-lebih seputar variasi-variasi puasa sunnah.(Baca : Puasa Sunah Idul Adha)

Hikmah Puasa Sunnah ialah menahan diri dari kesibukan makan dan minum, serta seluruh hal yang membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai Waktu Buka Puasa yaitu terbenanmya sang surya, dimana bagi yang mengerjakannya akan menerima pahala, dan bagi yang tak melakukannya atau meninggalkannya tak akan mendapatkan dosa.(Baca : Hari yang Dilarang Puasa)

Jadi bisa diistilahkan bahwa puasa sunnah adalah puasa yang tidak diwajibkan untuk dilaksanakan bagi umat islam, akan tetapi apabila puasa tersebut dilaksanakan, maka akan menerima pahala dari Allah SWT.(Baca : Peraturan Mencicipi Makanan Ketika Puasa)

Kita bisa menemukan bermacam-macam manfaat dalam melakukan ibadah puasa, terpenting puasa sunnah, salah satunya Hikmah Puasa Sunnah ialah dapat menjauhkan diri dari semua perbuatan maksiat yang pada alhasil akan berujung pada datangnya siksaan dari Allah SWT. Selain itu, puasa juga berkhasiat bagi kesehatan kita. Selama melaksanakan puasa, seseorang dilatih untuk bisa menahan diri dari tindakan-perbuatan yang tak diizinkan selama melakukan puasa, serta membantu kita untuk menahan hawa nafsu.(Baca : Regulasi Puasa Tanpa Sahur)

Dalam ajaran agama islam terdapat sebagian macam puasa sunnah, ialah:

1. Puasa Arafah
Puasa Arafah yakni puasa sunnah yang dikerjakan pada hari kesembilan bulan Dzulhijjah bagi mereka yang tak melakukan ibadah haji.(Baca : Keutamaan Ibadah Haji)

Dalam sebuah hadist Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalah telah bersabda yang artinya:

“Tiada amal yang soleh yang dikerjakan pada hari-hari lain yang lebih disukai daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama dalam bln Dzulhijjah).” (Hadist Riwayat al-Bukhari).

Dan dalam Taudhih Al-Ahkam, Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata:

“Puasa hari arafah merupakan puasa sunnah yang paling utama menurut ijma’ para ulama.”

Seandainya Puasa Arafah disunnahkan bagi mereka yang sedang tak melakukan ibadah haji, lalu bagaimana dengan mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci?(Baca : Keutamaan Haji)

Al-Imam As-Syafie’i sudah berpendapat bahwa bagi mereka yang pada saat itu sedang melakukan ibadah haji di Arafah akan lebih bagus seandainya mereka tidak menjalankan puasa di hari itu, dengan tujuan agar mereka kuat dalam berdo’a dan melakukan ibadah haji di sana.(Baca : Renungan Akhir Ramadhon)

Imam Ahmad RadiAllahuanhu pun mengatakan bahwa “Seandainya ia cakap berpuasa karenanya boleh berpuasa, melainkan kalau tak hendaklah dia berbuka, sbb hari ‘Arafah memerlukan daya (kekuatan).”

Adapun niat dalam melaksanakan puasa arafah merupakan “Nawaitu ashoumul arafah lilyaumil ghoddi lillahi Ta’ala.” artinya “Aku niat puasa Arafah , sunnah sebab Allah ta’ala”

Menghapuskan dosa selama dua tahun ialah satu tahun sebelumnya dan satu tahun ke depan. Sebagaimana hadist Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam yang artinya:
“Rasulullah SAW pernah ditanya seputar puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun selanjutnya.” ” (HR. Muslim)Tipe – Jenis Puasa Sunnah dalam Agama Islam.

Macam – Tipe Puasa Sunnah dalam Agama Islam

Dapat membebaskan kita dari siksa api neraka, sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan oleh sebagian besar ulama yang menyatakan bahwa Allah memberikan kebebasan dari azab api neraka di hari arafah bukan hanya bagi jamaah haji yang sedang menjalankan wukuf di padang Arafah, tapi juga terhadap kaum muslimin yang sedang tak berhaji.(Baca : Siksa Neraka Bagi Pezina)
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda yang artinya:

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka yaitu hari Arofah. Ia akan mendekati mereka lalu akan menonjolkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”(HR. Muslim)

Dikabulkannya Do’a, seperti hadist Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam yang artinya:
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula disuarakan oleh para Nabi sebelumku yakni ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tak ada sekutu bagi-Nya. MilikNyalah segala kerajaan dan seluruh pujian, Allah Maha Menguasai semua sesuatu).” (HR. Tirmidzi, hasan)

2. Puasa di Sembilan Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Di sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah, umat muslim disarankan untuk memperbanyak amalan seperti berdzikir, istigfar, berdo’a, beramal, serta yang paling ditekankan yakni menjalankan puasa. Mengapa? Karena Keutamaan Bulan Dzulhijjah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sama seperti kita berpuasa selama setahun penuh serta seperti kita menjalankan sholat tiap-tiap malam yang sebanding dengan sholat pada malam Lailatul Qodar.(baca : Puasa 1 Muharram)

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:

”Tiada sebarang hari pun yang lebih disukai Allah dimana seorang hamba beribadat di dalam hari-hari itu ketimbang ibadat yang dijalankannya di dalam 10 hari Zulhijah. Puasa sehari di dalam hari itu menyamai puasa setahun dan qiamulail (menghidupkan malam) di dalam hari itu umpamanya qiamulail setahun.”

Dalam Hadist yang diriwatkan oleh Hunaidah bin Khalid, dari isterinya, dari beberapa istri Nabi SAW:

“Sebenarnya Rasulullah SAW mengerjakan puasa sembilan hari di awal bulan Zulhijjah, di Hari Asyura dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang selanjutnya.” (Hadith Riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’ie)

Keutamaan berpuasa di sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah

Diampuni semua dosa-dosanya oleh Allah SWT.
Diibaratkan seperti orang yang sedang beribadah dan berpuasa selama satu tahun tanpa menjalankan perbuatan maksiat.
Do’a-do’anya akan dikabulkan Allah SWT.
Semua kesusahan, kemelaratan dan kefakirannya akan dihilangkan oleh Allah SWT dan pada hari Akhir, mereka akan bersama orang yang baik, mulia dan terhormat.
Bisa terhindar dari sifat munafik dan siksaan kubur.(baca : Fadhillah Surat Al Mulk)
Mendapatkan Rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT dan dibebaskan dari adzab.
Akan terhindar dari 30 pintu kemelaratan dan kesukaran serta membuka 30 pintu kemudahan dan kesenangan.(Baca : Doa Supaya Dimudahkan Segala Urusan)
Memperoleh pahala yang tak terhingga jumlahnya.
Akan diampuni dosa-dosanya setahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.

3. Puasa Tasu’a

Puasa Tasu’a adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Muharam. Puasa ini dijalankan untuk mengiringi puasa yang dilaksanakan pada keesokan harinya adalah di tanggal 10 Muharram. Mengapa sepatutnya begitu? Sebab dihari yang sama ialah tanggal 10 Muharram orang-orang Yahudi juga mengerjakan puasa.(Baca : Asal usulan Bulan Muharam)
Jadi menjalankan puasa ditanggal 9 Muharram untuk mengiringi puasa keesokan harinya akan bisa membedakan dengan puasa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.(baca : Keutamaan Bulan Muharram)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Rasulullah Sshallallahu ‘Alaihi Wa sallam sedang melakukan puasa Asyura, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan puasa di hari itu juga, ada beberapa sahabat yang berkata yang artinya:

“Duhai Rasulullah, sebenarnya tanggal 10 Muharram itu, hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani.” Lalu Rasulullah menjawab yang artinya “Kalau datang tahun depan, insyaaAllah kita akan puasa tanggal 9 (Muharram)”.”Ibnu Abbas melanjutkan, “Tetapi belum sampai menjumpai Muharam tahun depan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” (HR. Muslim 1916).

Adapun niat untuk menjalankan puasa Sunnah tasu’a adalah “Nawaitu sauma gadhin min yaumi tasu’a sunnatan lillahi ta’ala.” yang artinya “Saya berniat puasa Sunnah Tasu’a sebab Allah Ta’ala.”
4. Puasa Asyura (10 Muharram)
Ini yaitu puasa sunnah yang dikerjakan pada keesokan hari setelah melaksanakan puasa sunnah Tasu’a. Imam As-Syafii dan pengikut madzhabnya, imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, dan ulama lainnya mengatakan bahwa direkomendasikan melaksanakan puasa di hari kesembilan dan kesepuluh bulan Muharram secara berurutan.(Baca : Tata Belum Membayar Hutang Puasa Ramadhon)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam- Bersabda yang artinya:

“Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama sholat setelah shalat fardhu, yakni shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)

Adapun niat puasa Asyura yaitu “Nawaitu sauma ghodin min yaumi ‘asyura sunnattan lillahi ta’ala.” yang artinya “Aku berniat puasa sunnah Asyura’, sebab Allah ta’ala.”
Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu Anhu, dia berkata yang artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari ‘Asyura`, beliau menjawab: “Dia akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Dari penjelasan di atas terang telah bahwa puasa sunnah yang dijalankan pada tanggal 10 Muharram merupakan puasa sunnah yang terbaik dan lebih-lebih setelah melakukan Puasa Ramadhan, dan keutamaannya adalah Allah akan mengampuni semua dosa setahun yang lalu. Namun dimaksud dengan segala dosa di sini yaitu dosa-dosa yang kecil, sedangkan dosa-dosa besar tak akan diampuni oleh Allah selain dengan taubat dan rahmat dari Allah.(Baca : Larangan Puasa Hari Jumat)

5. Puasa Syawal
Puasa syawal ialah puasa sunnah yang dilakukan pada enam hari di bulan syawal yang yakni sunnah Nabi Muhammad Sholallahu alaihi Wassalam. Adapun untuk pelaksanaannya dapat dilaksanakan secara berurutan maupun secara terpisah.(Baca : Amalan Bulan Syawal)

Akan tapi menurut fatawa Ibni Utsaimin dalam kitab “Ad-Da’wah“, 1:52–53 mengungkapkan bahwa “Boleh menjalankan puasa sunnah secara berurutan atau terpisah-pisah. Namun, melaksanakannya dengan berurutan, itu lebih utama sebab menampilkan sikap bersegera dalam melakukan kebaikan, dan tak menunda-nunda amal yang bisa menyebabkan tak jadi beramal.”(Baca : Keutamaan Menikah di Bulan Syawal)

6 Keutamaan Puasa di Bulan Syawal di enam hari pada bulan syawal merupakan layak dengan hadist nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam yang artinya:

“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian ditiru puasa enam hari bulan Syawal, karenanya itulah puasa satu tahun.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Untuk melakukannya ibadah puasa sunnah syawal, niatnya adalah “Nawaitu sauma ghodin an sittatin min syawalin sunattan lillahi taala.”
6. Puasa Senin – Kamis
Puasa Senin Kamis adalah puasa sunnah yang paling sering kali dilakukan oleh Rasulullah sholallahu Alaihi Wassalam. Dari Abu Harrairah Radiallahu Anhu pernah berkata:

“Bahwasanya Rasulullah SAW adalah orang yang paling banyak berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” Dan saat Rasulullah ditanya tentang alasnnya, Beliau bersabda “Sesungguhnya semua amal perbuatan diberi tahu pada hari Senin dan Kamis, maka Allah akan mengampuni dosa setiap orang muslim atau tiap orang mukmin, kecuali dua orang yang bermusuhan.” Mengapa Allah malah berfirman “Tangguhkan keduanya.” (HR. Ahmad)

Mengapa Puasa Sunnah senin kamis benar-benar dianjurkan oleh Baginda Rasul? Keutamaan Puasa Senin Kamis ada di dalam sebuah Hadist yang disampaikan Abu Hurrairah,, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:

“Seluruh amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu saya senang dikala amal perbuatanku diperiksa aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Kecuali itu, dalam sebuah hadist, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga bersabda:

“Hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan, dan di mana saya dijadikan Rasul dan diturunkannya padaku wahyu”. (H.R. Muslim)

Adapun niat puasa senin kamis yaitu :

“NAWAITU SAUMA YAUMAL ITSNAII SUNNATAN LILLAHI TANA’ALA” yang artinya “Saya niat puasa hari Senin, sunnah karena Allah ta’ala.”
“NAWAITU SAUMA YAUMAL KHOMIISI SUNNATAN LILLAHI TAA’ALA” yang artinya “Saya niat puasa hari Kamis, sunnah sebab Allah ta’ala.”
7. Puasa Daud
Puasa daud adalah puasa sunnah yang dilaksanakan secara selang-seling, merupakan sehari berpuasa dan sehari berbuka (tak berpuasa). Dari Abdullah bin Amru radhialahu ‘anhu, Rasulullah holallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:
“Mengapa berpuasalah engkau sehari dan berbuka sehari, inilah (yang dinamakan) puasa Daud ‘alaihissalam dan ini merupakan puasa yang paling afdhal. Lalu aku berkata, sebetulnya aku cakap untuk puasa lebih dari itu, karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tak ada puasa yang lebih afdhal dari itu. ” (HR. Bukhari No : 1840)

Dalam hadist lain, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga bersabda:

“Puasa yang paling disukai oleh Allah yakni puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah yaitu Sholat Nabi Daud. Beliau awam tidur setengah malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau awam berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari Muslim)

Adapun niat dalam melakukan puasa sunnah Daud yaitu “Nawaitu shauma daawuda sunnatal lillahi ta’aala.” Tapi artinya “Aku niat puasa Daud, sunnah karena Allah ta’ala.”
Keutamaan Puasa Daud
Sopan terpelihara dari tindakan-perbuatan maksiat.(Baca : Zina Dalam Islam)
Bisa menumbuhkan Metode yang baik dan budi pekerti luhur
Dapat menerima seluruh pemberian dari Allah dengan lapang hati(Baca : Tenang Supaya Hati Hening Dalam Islam)
Dikaruniai pemikiran yang selalu positif, kreatif, dan inovatif
Dikaruniai sifat Istiqomah atau bisa membendung emosional
Moral menerima ketentraman jiwa(Baca : Jiwa Tenang)
Cara lebih berwibawa
Menjadi pintu datangnya rejeki
Kasih sebagai hamba Allah yang selalu bersyukur(Baca : Hening Jenis Yaitu Islam)
Dikaruniai Rumah Tangga dan Keluarga HarmonisTipe – Variasi Puasa Sunnah dalam Agama Islam.

Variasi – Variasi Puasa Sunnah dalam Agama Islam

8. Puasa Sya’ban
Saya puasa sunnah yang dianjurkan Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam yang lainnya yakni puasa di bulan Sya’ban. Dari Saidatina aisyah Radiallahu Anhu beliau berkata:

“Ramadhan Rasulullah saw berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tak pernah berpuasa. Saya tidak pernah memperhatikan Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah memandang beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata:

“Saya berkata: “Ya Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Kenapa beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhon. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan aku menyukai amal aku diangkat, meski saya dalam situasi berpuasa.” (HR. Nasa’i)

Dari hadist-hadist di atas kita tahu alangkah pentingnya mengerjakan puasa sunnah di bulan Sya’ban, berikut beberapa Amalan Nisfu Sya’ban :

Berpuasa satu hari di bulan sya’ban akan membawa profit bagi umat seperti Allah mengharamkan tubuhnya dari api neraka, kelak akan menjadi penghuni syurga dan menjadi teman bagi nabi Yusuf Alaihissalam, akan menerima pahala seperti yang sudah dilimpahkan Allah SWT kepada Nabi Ayub dan Nabi Daud.(Baca : Regulasi Menelan Tips Ketika Puasa Dalam Islam)
Berpuasa 3 hari di permulaan, pertengahan, dan akhir bulan sya’ban akan membawa profit seperti akan mendapatkan pahala 70 nabi dan layaknya beribadah 70 tahun, kalau dia meninggal di tahun hal yang demikian, maka ia akan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mati syahid.(Baca : Puasa Mutih 3 Hari)
Berpuasa pada hari kamis pertama dan terakhir di bulan sya’ban akan membawa keuntungan seperti akan diampuni dosa-dosanya yang sudah lalu dan akan dimasukkan ke dalam surga kelak.
Berpuasa di hari senin terakhir di bulan sya’ban akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.(Baca : Metode Puasa Ramadhon untuk Ibu Menyusui)
Dan jika berpuasa satu bulan penuh di bulan sya’ban akan mendatangkan profit seperti akan diberi kemudahan saat ia mati seperti terlepas dari kegelapan alam kubur, terbebas dari huru hara malaikan munkar dan nakir, Allah akan menutup terhinanya di hari akhir zaman, serta ia akan diwujudkan penghuni syurga.(Baca : Duhai Hening Ziarah Kubur)
Adapun niat puasa sunnah sya’ban ialah “Nawaitu sauma syahri syahban lillahi ta’ala” yang artinya “Saya niat puasa bulan sya’ban , sunnah sebab Allah ta’ala.”

9. Puasa 3 Hari pada Pertengahan Bulan
Puasa ini diketahui dengan sebutan puasa Ayyamul Bidh, dimana pelaksanaanya yaitu di 3 hari setiap pertengahan bulan, merupakan tanggal 13,14, dan 15. Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasai, dan at-Tirmidzi, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Wahai Abu Dzarr, seandainya engkau mau berpuasa tiga hari tiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah.”

Abu Hurrairah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Kekasihku ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan padaku tiga pengarahan yang saya tidak meninggalkannya hingga aku mati ialah berpuasa tiga hari tiap-tiap bulannya, mengerjakan sholat Dhuha, dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)

Adapun niat puasa sunnah ini yakni “Nawaitu shauma ghodiin an ada’i sunnatun ayyamil Biidh lilahi ta’ala.” Tapi artinya “aku niat berpuasa sunah hari putih sebab Allah Ta’ala.”
Keutamaan Menjalan Puasa Sunnah ini yaitu:

Bisa mengendalikan hawa nafsu(baca : Tenang Ampuh Metode Nafsu di Bulan Ramadhon)
Agar anggota tubuh kita bisa beristirahat tiap bulannya
Dapat menghidupkan sunnah Nabi(Baca : Tenang Makan Rasulullah Sunnah Rasul)
10. Puasa di Bulan-bulan Haram (Asyhurul Hurum)
Ini yakni puasa sunnah yang dikerjakan di bulan-bulan haram, merupakan bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rajab. Kenapa demikian? sebab bulan bulan hal yang demikian dimaksudkan untuk melepas sesuatu yang haram (meninggalkan sesuatu perbuatan yang haram) dan mengamalkan puasa dan ibadah-ibadah lain pada bulan-bulan tersebut.(Baca : Keutamaan Puasa Rajab)
Dari Abi Bakrah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

“Setahun ada dua belas bulan, empat darinya merupakan bulan suci. Tiga darinya berturut-turut; Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab”. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)

11. Puasa bagi Pemuda yang Belum Menikah
Ini adalah puasa sunnah yang disarankan untuk dikerjakan oleh tiap-tiap pemuda yang belum menikah sebagai pengingat diri, lebih-lebih bagi pemuda yang mempunyai syahwat tinggi. Puasa ini dapat dikerjakan kapan saja selain pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa.(Baca : Amalan Sunnah di Malam Jumat)

Adapun faedah yang dapat didapat dengan menjalankan puasa ini yaitu dapat menjadi perisai bagi mereka yang belum menikah dari godaan syahwat yang betul-betul kuat.(Baca : Sistem agar Lancar Berpuasa)

Rasulullah SAW bersabda:

“Duhai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mempunyai kecakapan untuk menikah, karenanya hendaklah lantas menikah, karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga genitalia. Dan barangsiapa yang belum cakap karenanya hendaklah shaum sebab shaum akan menjadi tameng baginya.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah macam-variasi puasa sunnah dalam agama Islam, semoga kita sebagai umat muslim tak hanya melakukan puasa seharusnya saja, teapu juga menjalankan puasa sunnah yang sering menjadi adat istiadat Nabi Muhammad SAW.



Bantu penulis dengan share: