Kekerabatan Keterlambatan Menikah Dengan Qadha Dan Qadar Allah

Apakah keterlambatan menikahnya seorang gadis berhubungan dengan qadha dan qadar Allah ?. Aku seorang gadis yang takut kepada Allah –Ta’ala-, saya rajin mendirikan sholat, saya tidak kunjung menerima jodoh, yang berharap meminang saya sungguh-sungguh sedikit, hampir seluruh mereka memiliki terhina dalam problem agama. Pertanyaan aku: Apakah tak kunjung mendapatkan jodoh ada kaitannya dengan qadha dan qadar Allah, atau karena aku seorang yang berdosa hingga Allah berang terhadap aku ?, walaupun aku seperti itu takut terhadap Allah, Ia juga menitipkan wajah menawan ini terhadap aku, aku mau menenangkan fikiran aku dengan bertanya terhadap anda, atas jawabannya aku ucapkan banyak terima kasih.

Jawaban:

Alhamdulillah

Al Qur’an, Sunnah yang shahih dan ijama’ generasi ulama salaf sudah memperlihatkan akan keharusan beriman dengan takdir bagus dan buruk, hal hal yang demikian sudah menjadi bagian dari rukun iman yang enam dan tidak dianggap sempurna keimanan seorang hamba kecuali rukun keenam hal yang demikian, Allah –Ta’ala- berfirman:

( مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ) الحديد/22

”Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri namun sudah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sebenarnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al Hadid: 22)

Allah –Ta’ala- juga berfirman:

( إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ) القمر/49 .

“Sesungguhnya Kami menjadikan semua sesuatu menurut ukuran”. (QS. al Qamar: 49)

Dari Umar bin Khathab –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda untuk mengajarkan iman:

( أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره ) ( رواه مسلم 8 )

“Hendaknya kau beriman terhadap Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan hendaknya beriman kepada takdir-Nya yang baik dan buruk”. (HR. Muslim: 8)

Semua hal yang terjadi di jagat ini ialah sebab takdir Allah –Ta’ala-, dan sepatutnya bagi yang beriman dengan takdir agar percaya bahwa Allah –Ta’ala- Maha Mengetahui seluruh sesuatu sebelum terjadinya, kemudian menuliskan ilmu hal yang demikian di lauhil mahfudz, lalu Allah menghendaki untuk mewujudkannya, kemudian menciptakannya, inilah jenjang takdir yang empat yang telah tidak asing lagi, dan tiap-tiap tingkatan tersebut terdapat banyak dalil, dan telah dijelaskan sebelumnya dengan rinci pada jawaban soal nomor: 49004 karenanya silahkan anda membacanya.

Majunya atau mundurnya waktu pernikahan, mudah dan sulitnya segala itu berdasarkan takdir Allah –Ta’ala-. Segala itu bukan berarti bahwa seorang muslim tak melakukan sebab-karena yang dengan itu Allah –Ta’ala- akan menghasilkan musababnya, melakukan karena itu tak menafikan sesuatu yang sudah ditakdirkan pada zaman azali, sebab seseorang tidak mengenal apa yang telah ditentukan baginya, maka dari itu ia diperintah untuk melaksanakan karena-sebabnya.

Seluruh bencana yang telah ditakdirkan oleh Allah –Ta’ala- kepada seorang hamba, akan menjadi baik bagi seorang mukmin bila dia bersabar dengan musibah itu dan mengambil pembelajaran, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

( عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ) ( رواه مسلم2999)

“Urusan orang mukmin itu menakjubkan, sungguh seluruh urusannya yakni bagus, dan hal itu tak dimiliki selain oleh seorang mukmin, sekiranya dia sedang berbahagia dia bersyukur, karenanya hal itu lebih baik baginya, dan apabila dia tertimpa bencana ia bersabar, maka hal itu lebih bagus baginya”. (HR. Muslim: 2999)

Jika yang terjadi dapat jadi sebagai dampak dari maksiat yang telah dikerjakan, tetapi hal hal yang demikian tidak menjadi sebuah keharusan, bisa jadi untuk meninggikan derajat seorang mukmin, dan menambah kebaikannya seandainya dia bersabar dan ridho… atau ada banyak lagi hikmah yang agung dibalik musibah hal yang demikian.

Syeikh Abdul Aziz bin Baaz –rahimahullah- pernah ditanya:

“Ia seseorang sedang diuji dengan penyakit atau bencana yang buruk pada jiwa dan harta, bagaimana cara mengenali bahwa hal itu ujian atau geram dari Allah ?

Beliau menjawab:

“Allah –‘Azza wa Jalla- menguji hamba-hamba-Nya dengan kebahagiaan dan duka, dengan kesusahan dan kemudahan, bisa jadi Dia menguji mereka untuk mengangkat derajat mereka dan melipatgandakan kebaikan mereka, sebagaimana yang Dia lakukan terhadap para Nabi dan Rasul –‘alaihimus salam- dan terhadap orang-orang sholeh dari hamba-Nya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

( أشد الناس بلاء الأنبياء ، ثم الأمثل فالأمثل )

“Manusia yang paling keras bala’nya (ujiannya) yaitu para Nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, demikian seterusnya”.

Kadang kala Dia –subhanahu wa ta’ala- menjalankannya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa, dan mensegerakan hukuman-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

( وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفو عن كثير )

“Dan apa petaka yang menimpa kau maka ialah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memberi maaf beberapa besar (dari kekeliruan-kesalahanmu)”. (QS. Asy Syura: 30)

Ia pada umumnya seorang manusia tak optimal dalam melaksanakan kewajiban, maka apa yang menimpanya disebabkan karena dosa-dosanya dan kelalaiannya akan perintah Allah, dan jikalau salah seorang dari hamba Allah yang sholeh diuji dengan penyakit atau semacamnya, karenanya hal ini termasuk sejenis dengan ujian yang menimpa para Nabi dan Rasul untuk mengangkat derajat, mengagungkan pahalanya, dan agar menjadi teladan bagi yang lain dalam hal kesabaran dan pengharapan.

Tapi:

Bahwa dapat jadi bala’ (ujian) itu mengangkat derajat, dan mengagungkan pahala, sebagaimana yang Allah lakukan kepada para Nabi dan para hamba-hamba alternatif-Nya, dapat juga untuk meniadakan dosa, sebagaimana dalam firman-Nya:

(من يعمل سوءً يُجز به )

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberikan pembalasan dengan kriminal itu”. (QS. An Nisa’: 123)

Dan berdasarkan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

( ما أصاب المسلم من همٍّ ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفَّر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها )

“Tidaklah ada yang menimpa seorang muslim dari mulai kerisauan, kegundahan, keburukan, penyakit, duka dan duka kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya sampai duri yang menancap sekalipun”.

Sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lain:

( من يرد الله به خيراً يُصِب منه)

“Barang siapa yang Allah menginginkannya bagus , karenanya ia akan mengerjakannya”.

Apabila bisa jadi juga kejadian itu adalah sanksi yang disegerakan sebab disebabkan oleh maksiat dan tak lantas bertaubat, sebagaimana dalam hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa salam- :

( إذا أراد الله بعبده الخير عجَّل له العقوبة في الدنيا ، وإذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافيه به يوم القيامة ) خرجه الترمذي وحسنه

“Ia Allah menginginkan terhadap hamba-Nya sebuah kebaikan karenanya Ia akan mensegerakan hukumannya di dunia, dan bila mengingikan keburukan kepada hamba-Nya maka Allah akan membendung hukuman-Nya dengan dosanya sampai akan dilakukan pada hari kiamat”. (HR. Tirmidzi dan dihasankan olehnya)

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat: 4/370)

Selama anda menolak para peminang anda karena Allah dan disebabkan sebab mereka tidak istiqamah dalam agama, karenanya Allah –Ta’ala- akan menggantikan dengan yang lebih baik dari mereka, Allah –Ta’ala- berfirman:

( وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ ) (الطلاق/2 ، 3 )

“Barangsiapa yang bertakwa terhadap Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS. ath Thalaq: 2-3)

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam brsabda:

( إنك لن تدع شيئاً لله عز وجل إلا بدَّلك الله به ما هو خير لك منه ) رواه الإمام أحمد ، وصححه الألباني في ” حجاب المرأة المسلمة ” ( 47)

“Tidaklah anda meninggalkan sesuatu karena Allah –‘Azza wa Jalla- kecuali Allah akan menggantikan yang lebih bagus bagi anda”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh al Baani dalam Maka Mar’ah al Muslimah: 47)

anda wajib lantas mendekatkan diri kepada Allah –Ta’ala- dengan berdo’a dan beribadah, dan janganlah mengeluh serta ketahuilah bahwa rahmat Allah seperti itu dekat kepada orang-orang yang bertindak baik.

Wallahu a’lam .



Bantu penulis dengan share: