Membangun Daya Iman terhadap Allah, Rasul dan Al Qur\’an

Bumi berputar pada porosnya sehari sekali sekalian berjalan pada orbitnya mengitari sang surya setahun sekali. Sedang Bulan mengitari bumi selama 29-30 hari. Makanya satu kali sirkulasi bulan kepada bumi umum disebut sebulan. Fenomena sistem benda angkasa atau yang lebih diketahui dengan metode tata surya inilah yang menyebabkan ada malam dan siang, juga purnama dan bulan sabit, serta ada gerhana matahari dan bulan. Masih banyak fenomena lainnya yang belum dikenal manusia. Mesti fakta-fakta yang terjadi di alam semesta seperti ini menghasilkan bahan perenungan bagi manusia di bumi ini. (lihat QS. Ali ‘Imron 190)

Tata surya yang ada mempunyai sistem yang betul-betul sempurna hal yang demikian pastilah ada yang membatasi. Yakni Allah SWT. Tuhan Yang Pencipta dan Kuasa Pengatur alam semesta ini. Oleh sebab bumi adalah bagian dari alam semesta sudah tentu kehidupan manusia di bumi juga diatur oleh Allah SWT. Ia Tuhan Ilahi Mahatahu dengan semua sesuatu seputar makhlukNya. Termasuk segala keadaan sulit yang meliputi manusia. Sebab memang manusia lemah dan terbatas pengetahuannya tentang kehidupannya sendiri. Dan ingat! Manusia mempunyai naluri-naluri yang jikalau dikuasai manusia sendiri dalam pemenuhannya, karenanya yang terjadi kerusakan dan kehancuran. Untuk itu Allah SWT menurunkan tanda atau peraturan hidup manusia di bumiNya. Bagaimana mengetahui dan meyakini undang-undang mana atau sistem hidup mana yang sesuai bagi manusia di bumi ini dan benar-benar dari Terhadap Pencipta?

Iman Hakekatnya Kitabullah
Allah SWT menurunkan wahyu, berupa kitab dan apa yang difirmankan-Nya kepada sebagian Rasul berupa shuhuf (lembaran). Kitab-kitab besar berasal dari firman Allah SWT, seluruhnya berjumlah empat kitab suci, merupakan Az-Zabur yang diwariskan kepada Nabi Daud AS; At-Taurat yang diturunkan terhadap Nabi Musa AS; dan Injil diturunkan terhadap hamba Allah dan Rasul-Nya, Isa AS. Dan yang terakhir Al-Qur’an yang diturunkan terhadap Nabi dan Rasul terakhir merupakan Muhammad SAW;

Sementara itu, firman Allah SWT dalam bentuk lain, yaitu berupa lembaran-lembaran lain, misalnya apa yang diberi Allah kepada Nabi Ibrahim AS. Di antara kitab-kitab besar hal yang demikian hanyalah Al-Qur’an yang dipelihara oleh Allah SWT dan sekaligus berfungsi sebagai penghapus syari’at-syari’at Nabi dan Rasul sebelumnya.

Allah SWT befirman:
“Karenanya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an. Dan sebetulnya, kami memeliharanya.” (QS. Al Hijr: 9)

Dan dalam surat yang lain Allah SWT berfirman:
“(Dan) Kami telah turunkan Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yakni kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan sebagai standar terhadap kitab-kitab tersebut. Selain, putuskanlah perkara mereka menurut (Al-Qur’an) yang diwariskan Allah dan janganlah kau meniru hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (Al-Qur’an) yang sudah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Keyakinan kepada kitab-kitab Allah harus mempunyai sandaran yang berasal dari pemahaman dalil aqli dan naqli. Al-Qur’an yakni suatu kenyataan yang dapat dijangkau oleh panca indra. Oleh sebab itu hal ini bisa ditelusuri serta dibeberkan sehingga memperkuat bangunan keimanan seseorang. Secara dalil aqli bila terpuaskan, apalagi dengan dalil naqli tidak akan lagi ada keraguan sedikitpun dan benar-benar kuat di dalam diri seseorang.

Al Qur’an benar-benar berbeda dengan kitab besar yang telah disebutkan sebelumnnya. Kuasa dipelihara dan dijaga oleh Allah SWT., kitab ini dapat dijelaskan secara aqli bahwa memang benar-benar wahyu dari Yang Semesta Alam. Walaupun seperti kitab-kitab samawi lainnya yang tidak bisa ditunjukkan secara aqli oleh pengikut Nabi yang membawanya. Dan tidak menjadikannya (At-Taurat atau Injil) sebagai bukti tentang kenabiannya. Duhai demikian, kita seharusnya mengimaninya bahwa kitab-kitab tersebut memang pernah diwahyukan terhadap Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul terdahulu, baik yang diberitakan dalam Al-Qur’an ataupun yang tidak dikabarkan.

Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
“Petunjuk orang-orang yang beriman tetaplah beriman terhadap Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab-kitab yang sudah Allah turunkan sebelumnya. Siapa saja yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-KitabNya, Rasul-Rasul-Nya dan hari kiamat, karenanya sesungguh-nya orang tersebut telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 136)

Al Qur’an Kalamullah
“Kitab (Al-Qur’an) ini, tak ada keraguan padanya. Jika bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Kuasa kita bisa menggambarkan bahwa Al Qur’an benar-benar wahyu Tuhan Terhadap Pencipta alam semesta secara aqli, karenanya kita akan dapatkan keyakinan yang sungguh total. Bersatu dengan perasaan dan hati sehingga merasuk dalam diri kita. Kecuali ayat suci di atas tidak cuma dibaca melainkan benar-benar dan serius diciptakan pandangan hidup manusia yang berakal.

Al Qur’an diturunkan kepada hambaNya yang terpilih menjadi RasulNya Muhammad SAW. Kitab yang berbahasa Arab ini dipastikan dan benar-benar wahyu Allah SWT. Ada tiga kemungkinan yang menandakan hal tersebut. Pertama, Kitab Al Qur’an ialah karangan orang Arab. Ilahi kedua, Al Qur’an yaitu karangan Muhammad SAW. Semua yang ketiga, Al Qur’an benar-benar berasal dari Allah SWT. Dan tidak ada lagi kemunggkinan kecuali tiga kemungkinan hal yang demikian. Malahan, Kitab Al Qur’an berciri khas Arab baik dari segi bahasa ataupun gayanya.

Kemungkinan pertama bahwa Al Qur’an yakni karangan orang Arab ialah hal yang amat tidak mungkin. Pun Al Qur’an telah menantang orang-orang Arab untuk membikin karya seperti Al Qur’an. Maka orang Arab berupaya sangat keras untuk membuatnya. Sekiranya para pakar syair Arab mencoba semaksimal mungkin. Karenanya, mereka tak kapabel menandinginya malahan satu surat saja mereka tak dapat!. Fakta tantangan Allah SWT kepada orang-orang Arab dapat kita lihat dalam firman-Nya:

“Katakanlah: Selain datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya” (QS. Hud:13)

“Katakanlah: (Karena benar apa yang kamu katakan), Selain cobalah datangkan sebuah surat yang (bisa) menyerupainya” (QS. Yunus:38)

Hanya orang-orang Arab tak bisa menjawab tantangan hal yang demikian berarti Al Qur’an memang bukanlah karangan orang Arab walaupun Al Qur’an berbahasa Arab.

Sementara kemungkinan yang kedua jikalau Al-Qur’an karangan Muhammad SAW. juga merupakan hal yang tidak logis. Malahan Beliau saw. orang Arab juga. Betapapun jeniusnya Beliau saw. tetap seorang manusia yang menjadi salah satu anggota masyarakat dan bangsanya. Sebelumnya telah dibeberkan bahwa semua bangsa Arab tidak mampu membikin surat yang menyamai Al Qur’an. Itu berarti pula Muhammad saw. juga tak kapabel karena Beliau saw. juga termasuk orang Arab. Artinya, terang sudah bahwa Al Qur’an bukan karangan Muhammad saw. Fakta hal yang demikian diperkuat dengan adanya hadits-hadits shahih yang terucap juga melalui mulut beliau saw. —malahan beberapa diriwayatkan melewati cara tawatur— yang kebenarannya tidak disangsikan lagi. Dan bila dibandingkan setiap hadits hal yang demikian dengan Al Qur’an, maka tak didapati adanya kemiripan dari segi bahasanya. Sedangkan dalam waktu yang berbarengan Beliau saw membacakan ayat-ayat yang diterima sementara beliau saw. juga mengeluarkan hadits. Akan namun keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya.

Sehebat apapun seseorang membikin gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan ada kemiripan gaya bahasanya sebab memang itu adalah ciri khas bicara seseorang. Terbukti orang Arab yang pastinya paling paham gaya dan sastra bahasa Arab. Perbedaan gaya bahasa Al Qur’an dengan hadits itulah bukti bahwa Al-Qur’an bukan perkataan atau karangan Muhammad. Dan tidak ada satupun dari mereka (orang-orang Arab) pernah menuduh bahwa Al Qur’an itu perkataan atau mirip gaya bicara Muhammad.

Justru tuduhan kepada beliau saw. adalah Al Qur’an yaitu hasil saduran beliau saw. dari pemuda ajam (non Arab) yang beragama Nashrani bernama Jabr. Tuduhan tersebut ditolak olah Allah SWT dalam firmanNya:

“(Dan) Maka Kami mengenal mereke berkata; Bahwasanya Al Qur’an itu diajar oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Walaupun bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (ada-lah) bahasa ‘ajami (non Arab), padahal Al Qur’an itu dalam bahasa Arab yang jelas”. (QS. An Nahl :103)

Berdasarkan sudah bahwa Al Qur’an bukan karangan orang Arab dan bukan pula karangan Muhammad saw. berarti Al Qur’an ialah kalamullah yang merupakan syari’at Allah SWT, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya.

Oleh sebab Muhammad saw. yaitu orang yang membawa Al Qur’an karenanya dapat diyakini secara pasti bahwa Mu-hammad saw. yakni seorang Nabi dan Rasul.

Muhammad SAW. Penutup Nabi dan Rasul
Beliau saw merupakan seorang Nabi dan Rasul yang terakhir, tidak diragukan lagi. Sebab ini harus diimani tiap-tiap muslim. Ia tidak, maka keliru dan sesatlah aqidahnya!. Allah SWT berfirman :

“Muhammad itu sekali-kali bu-kanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kau, namun dia ialah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan ialah Allah Mahatahu Hakekatnya Sesuatu” (QS. Al Ahzab:40)

Ayat ini jelas bahwasanya Muhammad yaitu penutup para nabi, dan itu berarti tak akan ada nabi lagi sesudah Beliau saw. Apalagi akan ada Rasul pembawa syari’at. Ini merupakan kesesatan yang riil!.

Tak pemahaman kategori sesat Ahmadiyah bahwa kata KHATAMU NABIYYIN pada ayat di atas diartikan cap (stempel) bagi nabi-nabi sebelumnya. Pemahaman ini sungguh keliru! Malah menurut seorang spesialis bahasa Arab Jamaluddin Muhammad Al An-shary mengatakan dalam kamusnya Lisanul Arab Juz XV hal 55 cet Mesir, bahwa kata khatam memiliki arti yang sama dengan khatim dan khitam. Bahkan menulis sebagai berikut:

Khitam dari suatu kaum serta khatim dan khatamnya ialah penghabisan dari mereka. Dan Muhammad saw. yaitu khitam (penghabisan/terakhir) dari seluruh nabi. Khatim dan Khatam yakni diantara nama (yang dikasih kepada) Nabi Muhammad saw. di dalam Al Qur’an bahwa Muhammad saw merupakan “KHATIMAN-NABIYYIN” adalah penghabisan nabi (penutup) seluruh nabi.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Baginda Nabi saw. bersabda:
“Maka risalah kenabian itu sudah habis, maka tidak ada rasul sesudahku”. (HR. Ahmad)

Dan juga diriwayatkan oleh Bukhary, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. menginformasikan:
“Meskipun akan terjadi kiamat selain akan keluar (timbul) tukang-tukang bohong (para penipu) kaprah-kira 30 orang. Semuanya mengaku dirinya sebagai Rasul Allah.”

Wajib apa yang ada di dalam benak mereka hingga memahami ada nabi lagi sesudah Muhammad saw. Dengan dalil-dalil tersebut apakah tak cukup mematahkan pemahaman tersebut. Apabila mereka mengatakan dikala divonis sesat oleh kaum muslimin hingga tempatnya diserbu, “ini telah sunnatullah, kebenaran pasti selalu ada cobaan dan ujian”. Kebenaran bukan didasarkan atas cobaan dan ujian. Memangnya kesesatan tidak mengalaminya? Kebenaran datanganya dari Allah SWT dan RasulNya. Dia tak didasarkan pada Al Qur-’an dan As Sunnah karenanya kebenaran hal yang demikian tertolak!. Aduhai demikian tidak dibetuli memerangi mereka secara jasmaniah. Sepatutnya kita sadarkan mereka dengan sistem dialog. Dalam hal ini pemerintahlah yang mesti menyelesaikannya.

Oleh karena itu, dalam beragama jangan cuma mengaplikasikan perasaan dan hati saja, tetapi lebih memakai nalar sebagai potensi utama manusia dalam menjalani kehidupan. Berapa banyak Allah SWT menyinggung dalam firmanNya perihal penerapan nalar dalam memahami petunjuk-tanda kekuasaanNya sampai meyakini seratus persen adanya Allah SWT. Akan tetapi sesat bila sampai mengaplikasikan akal dengan berlebihan alias mengakal-akali peraturan-regulasi Allah SWT. Dan Janganlah akal diaplikasikan untuk memikirkan hal-hal di luar jangkauan nalar seperti, membayangkan Dzat Allah SWT, memikirkan surga dan neraka dan hal yang secara nalar, logika sendiri tidak kapabel. itu yaitu perbuatan bid’ah!. Cukup beriman saja bahwa itu memang ada.

Khatimah
Pertanda kaum muslimin, keimanan tidak cukup hanya di mulut saja. Iman terhadap Allah dan RasulNya serta Al Qur’an yang di dalamnya yaitu syari’at sebagai tanda kehidupan manusia wajib diaplikasikan (lihat QS. Al-Baqarah: 2), karenanya kita menjadi orang-orang yang taqwa.

ia dan apa saja jama’ah atau kelompok apa saja bila tidak layak dengan atau tidak menerapkan Al Qur’an dan As Sunnah dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini, karenanya dia tidak benar-benar beriman terhadap Allah swt. dan RasulNya serta KitabNya Al Qur’anul Karim. Imannya cuma sampai dimulut saja, tidak menghunjam dalam hatinya.

Walaupun ada penolong lagi selain Allah SWT sebagai penolong orang-orang yang beriman pada hari akhir.
Wallahu a’lam!



Bantu penulis dengan share: