Regulasi Berobat Dengan Meminum Air Kencing Unta Berdasarkan Pandangan Ulama’ Islam

Akhir-akhir ini masyarakat mulai menerapkan air susu dan air kencing unta sebagai obat berjenis-jenis tipe penyakit, dan rupanya banyak yang mendapatkan kesembuhan dengan cara meminum air susu dan air kencing unta. Bagaimana status aturannya dalam Islam, apakah halal atau haram?

Sebelum membahas regulasi mengonsumsi air kencing unta untuk obat, perlu digambarkan terutama dulu perihal status air kencing unta, apakah suci atau najis ?

Permasalahan Pertama : Undang-undang Air Kencing Unta dan Binatang-hewan yang dimakan dagingnya

Para ulama berbeda pendapat dalam problem ini [1] :

Pendapat Pertama : Air kencing unta tak najis ini yaitu anggapan Malikiyah dan Hanabilah,[2] serta beberapa dari ulama Syafi’yah, seperti Ibnu Huzaimah, Ibnu Mundzir, Ibnu Hibban, Abu Sa’id al Isthihri, Royyani.[3]

Dalil mereka ialah sebagai berikut :

Pertama : Hadist ‘Urayinin :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ فَجَاءَ الْخَبَرُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِيءَ بِهِمْ فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ وَأُلْقُوا فِي الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلَا يُسْقَوْنَ

Dari Anas bin Malik berkata, “Sebagian orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, tetapi mereka tak bendung dengan iklim Madinah hingga mereka malahan sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka bahkan berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya. Kemudian isu itu pun hingga kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki siang. Karenanya beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, karenanya tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka meminta minum melainkan tidak diberikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menunjukan bahwa air kencing unta tak najis, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan ‘Urayinin yang terkena sakit untuk berobat dengan meminum air susu dan air kencing unta. Beliau tidak akan menyuruh untuk meminum sesuatu yang najis. Adapun air kencing binatang-hewan lain yang boleh dimakan juga tak najis dengan mengqiyaskan kepada air kencing unta.

Hadist di atas juga berlaku bagi seluruh unta dan semua orang, tidak dikhusukan bagi Urayinin saja, sebab pada seperti dalam kaedah ushul fiqh diceritakan bahwa :

العِبرَة بِعُمُومِ اللَّفظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ

“ Teks-teks Al Qur’an dan Sunnah itu yang diterapkan adalah keumuman lafadhnya, bukan kekhususan sebabnya. “[4]

Berkata Ibnu Mundzir :

وَمَن زَعَمَ أَنَّ هَذَا خَاص بِأولَئكِ الأَقوَام فَلم يُصِب ، إِذ الخَصَائِص لَا تَثبُت إِلّا بِدَلِيل

“Barang siapa yang mengatakan bahwa hadits ini khusus orang-orang hal yang demikian, karenanya orang itu tak benar, karena kekhususan itu tak dapat diatur selain dengan dalil. “[5]

Kedua : Hadist Anas bin Malik

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ

“Dari Anas berkata, “Sebelum mesjid dibangun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di kandang kambing.” (HR. Bukhari)

Dibolehkan sholat di dalam sangkar kambing menampakkan bahwa kencing kambing tak najis, sebab sangkar kambing pasti ada kencing dan kotoran kambing.

Ketiga : Jabir bin Samurah

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ أُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الْإِبِلِ قَالَ لَا

Dari Jabir bin Samurah bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah kami harus berwudhu sebab makan daging kambing?” Beliau menjawab, “Apabila kau berkehendak karenanya berwudhulah, dan sekiranya kau tidak berkehendak karenanya janganlah kamu berwudhu.” Dia bertanya lagi, “Apakah mesti berwudhu disebabkan (makan) daging unta?” Beliau menjawab, “Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta.” Ia bertanya, “Apakah aku boleh sholat di kandang kambing?” Beliau menjawab, “Ya boleh.” Dia bertanya, “Apakah saya boleh shalat di kandang unta?” Beliau menjawab, “Tidak.” (HR. Muslim)

Dibiarkannya shalat di dalam sangkar dalam dua hadist di atas menampakkan bahwa air kencing kambing ialah suci tak najis, sebab biasanya kandang kambing itu tidak dapat terlepas dari air kencing dan kotoran kambing.

Ketiga : Kaedah Fiqh yang disebut dengan al-Baraah al-asliyah (pada dasarnya seluruh sesuatu yang belum ada hukumnya itu kembali kepada asalnya) dan asal dari seluruh sesuatu itu suci termasuk air kencing unta dan kambing, barang siapa yang menganggapnya najis, maka dia seharusnya mendatangkan dalil, dan tidak diperoleh dalil.[6]

Pendapat Kedua : Air kencing unta dan sejenisnya ialah najis. Ini ialah pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyah. [7]

Berkata Qadhi Husain dari Ulama Syafi’iyah :

“Menurut madzhab kami, bahwa apa yang keluar darinya seperti air kencing atau kotoran yakni najis, baik dari binatang yang dagingnya dimakan atau yang dagingnya tidak dimakan, baik itu kotoran burung, maupun bukan burung. “[8]

Mereka berdalil dengan keumuman hadist-hadist yang memperlihatkan bahwa air kencing itu najis, diantaranya yakni :

Pertama : Hadist Ibnu Abbas,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam via di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Hakekatnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Aduhai satu disiksa karena tidak bersuci sesudah kencing, sementara yang satunya menyenangi mengadu domba.” Kemudian beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih berair, beliau lalu membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan hal yang demikian. Para sahabat malah bertanya, “Mesjid Rasulullah, kenapa engkau menjalankan ini?” beliau menjawab: “Semoga siksaan keduanya diringankan selama batang pohon ini berair.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas membeberkan bahwa orang yang tak bersuci (cebok) sesudah kencing akan diadzab di dalam kuburan, hal ini menonjolkan bahwa air kencing itu najis, termasuk di dalamnya air kencing binatang yang boleh dimakan.

Kedua : Hadist orang Badui yang kencing di masjid

عن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Abu Hurairah berkata, “Seorang Arab badui berdiri dan kencing di Karenanya, lalu orang-orang berharap mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah ia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, hakekatnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tak diutus untuk membikin kesusahan.” (HR. Bukhari)

Simpulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyiram bekas air kencing dengan air, menampilkan bahwa air kencing itu najis, termasuk di dalamnya air kencing hewan yang boleh dimakan seperti unta dan kambing.

Ketiga : Hadist Anas bin Malik

عَنْ أَنس قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ ؛ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنَه

Dari Anas, bahwasanya dia berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam bersabda : “Bersihkan dari air kencing, sebab sebetulnya kebanyakan adzab kubur itu dari air kencing ( yang tak dibersihkan ) “ (HR. Daruquthni)[9]

Dilema :

Dari dua anggapan ulama tentang hukum air kencing unta, maka yang terliahat kuat dalilnya adalah anggapan yang mengatakan bahwa air kencing untu, kambing dan segala binatang yang boleh dimakan merupakan suci dan tidak najis.

Masalah Kedua : Regulasi Berobat Dengan Minum Air Kencing Unta

Para ulama membolehkan berobat dengan minum air kencing unta.

Adapun dalil mereka yakni sebagai berikut :

Pertama : Hadist ‘Urayinin di atas

Hadits di atas bagi golongan yang mengatakan bahwa air kencing unta tak najis, karenanya tak ada dilema. Dan dibolehkan berobat dengan sesuatu yang tidak najis

Bagi yang mengatakan bahwa air kencing unta najis, maka peristiwa dalam hadits tersebut merupakan karena darurat. Sehingga diperkenankan berobat dengan air kencing unta– walaupun berdasarkan mereka najis- sebab darurat.

Berkata Khatib Syarbini :

وَ أَمَّا أَمرُه صلَّى اللُهُ عَليه وسلم العُرنِيِين بِشُربِ أَبوَالِ الإبل فَكَان لِلتّدَاوِى و التَّدَاوِي بِالنَّجَس جَائزٌ عِند فَقدِ الطَاهِرِالذي يَقُوم مَقَامَه

“Adapun instruksi Rasulullah saw kepada al-‘Arayinin untuk meminum kencing unta, tujuannya yaitu untuk pengobatan. Dan pengobatan dengan sesuatu yang najis dibolehkan, sekiranya memang yang suci tidak bisa menggantikannya . “ [10]

Kedua : Hadist Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah bersabda :

إِنَّ فِي أَبْوَالِ الْإِبِلِ وَأَلْبَانِهَا شِفَاءً لِلذَّرِبَةِ بُطُونُهُمْ

“Sebenarnya dalam air kencing unta dan susunya dapat untuk mengobati sakit perut mereka (rusak pencernaannya)“. (HR. Ahmad, Thabrani dan Thohawi) [11]

Hadist di atas secara tegas menyuarakan bahwa air kencing unta dan susunya yaitu obat untuk sakit pencernaan, dan ini menampilkan kebolehan berobat dengan keduanya.

Ketiga : Sentra secara ilmiyah dan uji laboratorium bahwa air kencing unta yang dicampur dengan susu unta, dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit, diantaranya penyakit kanker, leukemia (kanker darah), hepatitis, penyakit gula (diabetes) dan penyakit kulit.

Dr. Faten Abdel-Rahman Khorshid, ilmuwan Saudi yang juga staf King Abdul Aziz University (KAAU) dan Presiden Tissues Culture Unit di Rangkuman Penelitian Medis King Fahd itu, sesudah melaksanakan penelitian selama lima tahun di laboratorium menemukan bahwa partikel nano dalam air seni hewan onta dapat melawan sel kanker dengan baik.

Beliau juga mengatakan bahwa air seni onta mengandung zat natural yang bisa membasmi sel membahayakan, serta menjaga sel-sel sehat pada pasien pengidap kanker. Penyakit kanker yang bisa disembuhkan dengan susu dan air kencing unta meliputi kanker paru-paru, kanker darah, kanker perut, kanker usus besar, tumor otak, dan kanker payudara.

Dilema :

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa air kencing unta undang-undangnya tidak najis menurut anggapan yang benar. Oleh karena itu, dibolehkan berobat dengan air kencing unta, kecuali pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw terhadap sebagian orang yang terkena penyakit, begitu juga secara medis dan uji laboratorium terbukti air kencing unta banyak manfaatnya untuk menyembuhkan beragam variasi penyakit. Wallahu A’lam.

Cipayung, Jakarta Timur, 8 Dzulhijjah 1432/ 4 Nopember 2011

[1] Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islami : 1/ 160

[2] Utsaimin, Syarh Mumti’ : 1/ 208, 227

[3] Nawawi, al-Majmu’ : 2/ 549, Ibnu Hajar, Fath al-Bari : 1/ 404

[4] Suyuti, Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, 1/ 89, Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Beirut, Dar Ihya Kutub al Arabiyah, 1957 : 1/ 32

[5] Ibnu Hajar, Fath al-Bari : 1/ 404

[6] Ini adalah perkataan Ibnu Mundzir (Fathu al Bari : 1/ 104), lihat juga Utsaimin, Syarh Mumti’ : 1/ 208, 227)

[7] Nawawi, al Majmu’ : 2/ 549 , Khatib Syarbini, Mughni Muhtaj : 1/ 233

[8] Qadhi Husain, at-Ta’liqah, Mekkah, Nazar Musthofa Baaz, 2/ 931

[9] Imam Daruquthni mengatakan bahwa yang benar dari hadist ini merupakan Mursal, namun dalam riwayat Abu Hurairah dan Ibnu Abbas sanadnya shohih ( Ibnu Hajar, at-Talkhis : 1/ 160, Abu Bakar Dinwari, al Mujalasah wa jawahir al Ilmi, 1/ 323 )

[10] Khatib Syarbini, Mughni Muhtaj : 1/ 233

[11]Berkata al Haitsami : “ Di dalamnya ada Ibnu Lahi’ah sedang hadistnya hasan dan pada dirinya ada kelemahan, sedang rijal sanad yang lain bisa dipercaya “



Bantu penulis dengan share: