Sifat Munafikin: Menyenangi Pamerkan Sholat dan Keshalihan. Jangan Tertipu!

Al-Hamdulillah, seluruh puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu \’Alaihi Wasallam-, keluarga dan para temannya.

Ayat-ayat perihal munafikin sungguh-sungguh banyak di Al-Qur\’an. Tersebar dalam beberapa surat. Bahkan ada surat yang bernama “Al-Munafiqun”. Tidak lain, sebab jumlahnya yang banyak di tengah-tengah umat dan menaruh bahaya yang luar biasa terhadap Islam dan kaum muslimin.

Gemar berbohong, mengibuli, berkhianat, dan ingkar komitmen yaitu diantara sifat terlihat pakar nifak. Menampakkan kebaikan yang berlainan dengan aslinya salah satu ciri utama mereka. Terpenting saat berada di tengah-tengah kaum muslimin dan ingin simpati mereka.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

“Dan jikalau mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: \”Kami sudah beriman.\” Dan jikalau mereka kembali terhadap syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: \”Hakekatnya kami sependirian dengan kau, kami hanyalah berolok-olok\”.” (QS. Al-Baqarah: 14)

Orang-orang munafik suka pamerin sholat –sebagai amal ibadah paling mulia, utama dan terbaik- untuk mencari simpati orang beriman. Agar dianggap sebagai orang shalih dan komponen dari kaum muslimin. Shalat jamaah yang banyak dihadiri umat, dia akan terdepan penuh semangat. Sholat yang tak ketara absensinya, seperti di waktu gelap, mereka tidak ada ketertarikan menghadirinya.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Hakekatnya orang-orang munafik itu mengibuli Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan sekiranya mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. Al-Nisa’: 142)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menceritakan bahwa ayat ini menjelaskan sifat orang munafikin dalam melaksanakan ibadah sholat; mereka melakukannya dengan malas sebab tak ada niat dan iman dalam mengerjakannya. Juga tidak ada rasa takut terhadap Allah dan tak memahami makna ibadah itu.

Mengerjakan shalat dengan malas-malasan merupakan sifat luar mereka. Ini berangkat dari sifat batin mereka yang senantiasa mencari perhatian manusia (riya’ terhadap mereka).

Mereka melaksanakan sholat tanpa keikhlasan dan tidak berinteraksi dengan Allah. Melainkan, shalat mereka hanya mau menampakkan terhadap manusia supaya diandalkan oleh mereka. Sedangkan hakikatnya, “Sebetulnya orang-orang munafik itu menipu Allah” dengan amal palsu mereka tadi.

Mereka tak memiliki kecintaan kepada Islam dan pemeluknya. Malahan sebaliknya, ingin menghancurkan Islam dan memerangi kaum muslimin.

Karenanya, jikalau kini banyak orang yang pamerkan shalatnya supaya dinilai baik oleh kaum muslimin -sebagai penduduk mayoritas- sehingga disupport dan dipilih dalam kontestasi pemilihan lazim (Pemilu); jangan hingga tertipu. Hakikat mereka tak seperti yang mereka tampakkan. Mereka hanya berharap mengibuli.

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak mengibuli Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka cuma mengibuli dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 9)

Oleh sebab itu, jangan tertipu orang-orang yang pamer shalatnya dan keshaihan saat dekat pemilu. Wallahu A’lam.



Bantu penulis dengan share: