Sistem Berbakti pada Orang Tua yang Telah Wafat

Ketua MUI Sentra, Pengasuh Pesantren Husnayain, Jakarta
Pertanyaan dikirim ke: redaksi@suara-islam.com

 

Assalamualaikum wr wb. Aku seorang si kecil bungsu dari empat bersaudara. Kedua orang tua sudah wafat, sementara dikala beliau hidup aku merasa belum maksimal dalam berbakti. Bagaimana caranya agar aku tetap dapat berbakti kepada kedua orang tua aku yang telah tiada itu. Sekian.

Abdullah, Jakarta Selatan.

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh

Ada berbagai sistem yang dapat dijalankan seorang si kecil terhadap orang tuanya yang telah meninggal dunia. Pada intinya, bertindak bagus (al arak) terhadap orang tua tidak usai dengan wafatnya kedua orang tua kita. Mendoakan orang tua, memohonkan ampunan atas dosa-dosanya kepada Allah Swt, menepati komitmen dan nadzar keduanya, memelihara silaturahim dengan sahabat keduanya, dan menziarahi kubur keduanya termasuk amalan-amalan yang dikelompokkan sebagai al-arak kepada orang tua yang telah meninggal dunia.

Mendoakan, menepati komitmen dan nadzar Orang Tua

Abi Asied bin Malik bin Rabi’ah As Sa’idi berkata: “Saat kami sedang duduk-duduk di Majelis Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang dari Bani Salamah bertanya: ‘Ya Rasulullah, apakah setelah ibu-bapakku meninggal dunia, masih ada sisa bakti yang dapat aku persembahkan terhadap keduanya…?”

Baginda Saw mengangguk, mengiyakan dan bersabda: “Ya, dengan jalan mengirimkan doa untuk keduanya, memohonkan ampun, menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan ibu-bapakmu, memelihara relasi silaturahiim dan memuliakan teman keduanya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ibnu Habban dalam Shahih-nya)

Dari Anas bin Malik,ra, katanya Rasulullah saw bersabda: “Sungguh seorang hamba ditinggal pergi oleh salah seorang atau oleh kedua ibu-bapaknya, sedang dia dalam kondisi durhaka. Melainkan sang si kecil selalu berdoa dan memohonkan ampun bagi keduanya, sehingga Allah menetapkannya sebagai si kecil yang berbakti terhadap orang tuanya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Dalam hadits yang lain dikatakan: “Permohonan ampun seorang buah hati untuk ayahnya setelah meninggal dunia, termasuk baktinya.” (HR. Ibnu Najjar, dikisahkan oleh Malik bin Zurarah ra.)

Dibawakan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh seseorang bisa naik kelasnya di surga!”, lalu dia bertanya keheranan: “Ya Rasulullah, darimana aku menerima daerah setinggi itu?”, lalu Rasul menjawab: “Dengan permohonan ampun anakmu untuk dirimu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi).

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw pernah bersabda: “Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah semua amal perbuatannya, kecuali dari tiga sumber: Sedekah Jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Membina Relasi Bagus dengan Kawan Ibu-Bapak

“Aku datang ke Madinah, kata Abu Burdah ra, lalu Abdullah bin Umar ra datang menemui saya seraya bertanya: “Tahukah engkau mengapa saya menemuimu?” “Tidak”, jawabku dengan jujur. Lalu ia menjelaskan: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang mau berhubungan dengan ayahnya yang sudah wafat, hendaknya dia menghubungi kenalan dan saudara-saudar ayahnya, sesudah ayahnya meninggal”. Kebetulan antara Umar ayahku, dan ayahmu terjalin persaudaraan yang akrab sekali, maka saya ingin melanjutkan relasi bagus itu” (HR. Abdur Razzaq dan Ibnu Habban dalam Shahih-nya)

Dikisahkan oleh Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar ra, bahwa ada seorang Badui yang dijumpainya di jalan di kota Makkah. Abdullah bin Umar mengungkapkan salam kepadanya, memerintahnya menaiki keledainya, dan mengenakan sorban yang diterapkannya terhadap orang Badui itu. Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar: “Allah akan mengganjar budi baikmu itu. Orang-orang Badui itu telah menerima kebaikan, meskipun sedikit”. Lalu Abdullah bin Umar berkata, “Saya berperilaku seperti itu karena ayah orang itu benar-benar akrab dengan ayahku Umar, dan saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sebenarnya bakti buah hati yang paling utama yaitu kekerabatan bagus si anak dengan keluarga kawan bagus ayahnya”. (HR. Muslim)

Berziarah ke Kubur Ibu-Bapak

Abu Hurairah ra, seorang sahabat Rasul Saw yang banyak hafal hadits berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berziarah ke kubur kedua orang tuanya, atau salah seorang dari keduanya pada tiap hari Jumat, maka dosanya akan diampuni Allah dan dia disuarakan sebagai seorang buah hati yang berbakti terhadap kedua orang tuanya.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath)

Muhammad bin Nu’man berkata, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Barang siapa yang berziarah ke kubur kedua orang tuanya, atau salah seorang dari keduanya, pada tiap-tiap hari Jumat, karenanya dosanya diampuni dan diucapkan sebagai anak yang berbakti.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam “Asy-Syu’ab” dan oleh Ibnu Dunya dalam “Al Qubur”).

Bantu penulis dengan share: